Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika

Identitas Buku :

Judul buku      : Bulan Terbelah di langit Amerika
Penulis             : Hanum Salsabiela Rais & Rangga                                                     Amahendra
Tahun terbit     : Mei 2014
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 344 halaman

ISBN               : 978-602-03-0545-5

1.      Kepengarangan
Hanum Salsabiela Rais adalah putri kedua Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan di , lahir dan menempuh pendidikan di ogyakarta dan mendapatkan gelar Dokter Gigi dari Universitas Gadjah Mada, namun mengawali kariernya sebagai jurnalis dan reporter-presenter di Trans TV. Tinggal di Austria selama 3,5 tahun bersama sang suami (Rangga Almahendra).

Buku-bukunya yang telah diterbitkan, yaitu Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta (2010), 99 Cahaya di langit Eropa (2011), Berjalan di Atas Cahaya (2013), dan Bulan Terbeah di Langit Amerika.
Rangga Almahendra adalah suami Hanum Salsabiela Rais, teman perjalanan sekaligus penulis kedua buku Bulan Terbelah di Langit Amerika. Ia menamatkan pendidikan dassar hinggaa menengah di Yogyakarta, kemudian berkuliah di ITB san S-2 di UGM.
Memenangi beasiswa dari pemerintah Austria untuk studi S-3 di WU Vienna. Pada 2010, ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar doktor dalam bidang Internasional Businnes & Management, tercatat sebagai dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dan Johannes Kepler University. Rangga sebelumnya bekerja di PT Astra Honda Motor dan ABN AMRO Jakarta.
Sinopsis
Buku ini menceritakan perjalanan Hanum dan Rangga di Amerika untuk menyelesaikan tugas masing-masing. Hanum yang medapat tugas meliput sebuah peristiwa dan Rangga yang mendapat tugas untuk mempresentasika papernya agar studinya cepat selesai.
Malam hari Hanum ditelpon oleh Getrund (atasannya) untuk datamg ke kantor besok pagi. Padahal besok adalah hari liburnya dan dia sudah ada janji dengan Rangga suaminya. Tapi akhirnya Hanum menerima permintaan Getrund untuk datang ke kantornya pagi-pagi.
Sementara itu Rangga yang masih berada di kampusnya. Tiba-tiba salah satu temannya (Stefan) melemparkan koran kearahnya dan menanyakan tentang seorang filantropi bernama Sr. Philipus Brown yang mendonasikan US$100 juta untuk beasiswa anak korban perang Irak dan Afganistan. Sementara Stefan beradu mulut dengan Khan (temannya yang berasal dari Pakistan) karena masalah seorang wanita yang menurut Stefan selalu diatur-atur dalam Islam. Rangga mendapatkan ide untuk paper berikutnya yang berjudul “The Power of Giving in Business”
Pagi harinya Hanum menemui Geturnd memberitahukan bahwa perusahaan tempat Hanum bekerja terancam bangkrut dan terpaksa akan mengurangi jumlah karyawan. Kecuali mereka bisa membuat artikel yang luar biasa. Dan ternyata Dewan Direksi meminta mereka menulis ‘Would the world  be better without Islam?’, ‘Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?’ Awalnya Hanum menolak untuk menulis itu dan mengusulkan rekan kerjanya yang bukan beragama Islam untuk menulis artikelnya. Tapi setelah memikirkan kata-kata Getrund yang ingin pendapat orang Islam dalam tragedi 9/11 (11 September di New York). Hanum akhirnya setuju. Untuk menulis artikel itu dia harus pegi ke Amerika.
Untuk merayakan ‘Saturday freeday’ bersama Hanum Rangga memilih kedai kecil penyedia makanan halal Yunani. Masih dipikirkannya perkataan Prof. Reinhard yang menyurunya untuk pergi ke DC bulan depan. Akhirnya Hanum dan Rangga pergi bersama ke Amerika selama 6 hari dengan pembagian waktu 3 hari di New York dan 3 hari di Washington DC.
Hari pertama di New York, Hanum belum menemukan seseorang untuk dijadikan narasumbernya. Hari kedua Hanum dan Rangga pergi ke kawasan Herlem untuk mencari Masjid Aqsa. Dan ternyata Masjid itu disegel dikarenakan si Tuan tanah selalu menaikkan tarif sewa setiap 3 bulan sekali. Di hari kedua ini Hanum juga belum menemukan seseorang yang pantas dijadikan narasumbernya. Hari ketiga Hanum pergi ke ‘Kompleks Grand Memorial 9/11’ di sana ada peringatan peristiwa 9/11. Hanum memasuki daerah Ground Zero sendirian sedangkan Rangga diminta Hanum menunggu di sekitas Grand Memorial untuk menjaga tas barang bawaan mereka. Di Ground Zero Hanum menemukan seseorang yang cocok untuk dijadikan narasumbernya. Dia adalah Michael Jones, pria yang memimpin aksi protes pembangunan masjid di sekitar Ground Zero. Istri Jones bernama Anna meninggal saat runtuhnya gedung WTC (World Trade Center). Di Ground Zero Hanum terjebak kekisruhan demonstran karena ada salah satu demonstran yang mabuk memasuki area Groung Zero.
Karena waktu yang semakin mepet Rangga kebingungan karena Hanum belum juga kembali. Rangga memutuskan menunggu Hanum di Penn Station untuk menunggu Hanum disana. Sementara Hanum sedang ketakutan karena ada kekisruhan yang disebabkan oleh seorang pria yang mabuk. Suasana di sekitar Hanum semakin kacau semua jalan ditutup dan handphone salah satu penghubungnya dengan Rangga terinjak-injak oleh orang-orang. Akhirnya Hanum bisa keluar dari kerumunan orang yang berunjuk rasa.   Tapi saat ini keadaan Hanum sangat buruk bahkan hampir seperti gembel yang sedang duduk di pinggir jalan. Dia melihat dompetnya yang hanya tersisa US$15 dan ponselnya yang telah remuk. Kemudian ada seorang pria tua duduk di sampingnya dan memandangnya dengan aneh. Hanum lantas meminjam ponsel pria tua itu untuk menghubungi Rangga yang 10 menit lagi harus berangkat ke DC.
Untuk menuju Penn Station Hanum harus menaiki bus dan lagi-lagi Allah mengujinya dengan dia salah naik bus. Seharunya dia menaiki bus dengan arah yang sebaliknya akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Groun Zero. Dia menuju Masjid Manhattan di sekitar Ground Zero dan tidur disana. Di Masjid itu dia bertemu dengan penjaga museum yang ditemuinnya tadi siang yang bernama Julia.
Julia menawarkan diri agar Hanum bermalam di rumahnya setelah ia mendengar cerita mengerikan dari Hanum yang dilaminya tadi siang. Dan ternyata Julia adalah seorang mualaf. Suaminya yang bernama Abe meninggal dalam tragedi WTC. Julia mempunyai nama muslim yaitu Azima Hussein dan anaknya bernama Sarah (Amala Hussein). Orang tua Azima menentang keras saat Azima memutuskan untuk menjadi seorang mualaf apalagi ayahnya adalah seorang pendeta di gereja. Dan sekarang ibunya menderita penyakit Alzheimer.
Rangga dalam perjalanannya menuju DC ia bertemu orang yang menurutnya aneh kerena dia mengharapkan adanya perang, perang dan perang. Itu karena ia tidak suka jika banya orang yang datang ke negerinya dan membuat negerinya menjadi padat penduduk. Ia bahkan mengharapkan adanya Pearl Harbor yang kedua.
Hanum ingin Azima menjadi narasumbernya. Awalnya Azima menolak tapi akhirnya ia mau asalkan Hanum menggunakan nama muslimnya untuk artikel yang ditulisnya. Hanum mulai mewawancarai Azima. Dari mengapa ia pindah ke museum 9/11 sampai hal-hal lain yang berhubungan dengan peristiwa 9/11. Azima pindah ke museum itu karena menurutnya meninggalnya Abe menyisakan rahasia yang belum bisa ia pecahkan sampai 8 tahun sejak peristiwa 9/11 terjadi.
Hari ke-4 Rangga sudah sampai di DC. Saat sedang sarapan ia melihat Philipus Brown. Ia menyapa Philip dan ternyata Philip tidak menolaknya dan mengajaknya sarapan bersama. Selama sarapan Rangga menanyakan banyak hal termasuk alasan kenapa Philip menjadi seorang filantropi. Tapi seakan-akan Philip menyembunyikan sesuatu. Sementara Rangga berbincang dengan Philip, Hanum menemua Jones yang telah menghubunginya tadi malam karena foto mendiang istrinya terbawa oleh Hanum saat kekisruhan terjadi. Untuk berbincang Jones mengajak Hanum ke sudut area tempat orang-orang melepas penat dengan makanan dan minuman. Beberapa saat mereka berbincang, Jones sudah menceritakan banyak hal tentang Anna. Yang pasti Jones juga menjelek-jelekkan nama Islam. Dan akhirnya Hanum mengaku bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang Muslim. Tak lupa Hanum juga bertanya ‘Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?’ Jonessebenarnya ingin menjawab iya tapi setelah ia mengetahui bahwa Hanum seorang Muslim akhirnya ia menjawab tidak.
Sebelum Hanum menemui Jones, Azima berkata bahwa ia sekeluarga akan pergi ke DC untuk mengunjungi makam ayahnya. Hanum bisa menumpang untuk menemui Rangga. Akhirnya Hanum berpamitan kepada Jones dan berangkat ke DC menyusul Rangga.
Setelah selesai presentasi dengan hasil yang kurang memuaskan Rangga pergi ke Memorial Abraham Lincoln. Tiba-tiba ada tangan yang menyekap matanya. Dia beusaha melepaskannya dan berhasil kemudian berbalik. Dia sangat senang melihat seseorang yang ada di depannya. Akhirnya Allah mempertemukan mereka kembali.
Setelah saling berkenalan Ibu Julia mengajak kami makan malam dirumahnya besok malam. Dan setelah itu kami pulang ke hotel. Hanum menceritakan semua kengerian yang dia alami selama di New York kepada Rangga. Hanum ingin lekas tidur tapi dia harus mengirimkan beberapa file kepada Getrund. Akhirnya Rangga mempersilakan Hanum untuk tidur sementara ia yang akan menunggu terkirimnya surel kepada Getrund. Saat file gambar selesai dikirim terlihat foto Anna Jones dan Ibrahim Abe Hussein dengan surat panggilan kerjanya. Rangga seperti akrab dengan logo itu. Akhirnya ia teringat sesuatu dan mengirimkan foto itu kepada Philipus Brown. Rangga berharap agar surel yang dikirimnya kali ini akan dibalas oleh Philip.
Pagi harinya Rangga memberitahukan bahwa malam ini mereka akan menonton CNN Heroes secara langsung. Rangga menyuruh Hanum untuk meminta Azima datang bersama dan mengganti makan malamnya dengan lain hari. Mereka bertemu di Smithsonian Museum tempat berlangsungnya acara. Saat akan memasuki ruangan Rangga memberikan tiket mereka. Sementara ia pergi ke toilet. Setelah itu Hanum dan keluarga Azima masuk dan duduk di anjungan 2 yang disediakan untuk para keluarga. Sarah berkenalan dengan Layla. Anak yang diadopsi oleh Philip yang berasal dari Afganistan. Tak lama kemudian Philip berjalan menuju panggung. Di depan panggung Brown menceritakan kejadian yang dia alami sehingg bisa selamat dari peristiwa 9/11 itu. Saat bercerita Philip tidak henti-hentinya mennangis. Dan ternyata orang yang bersama dengan Philip saat itu adalah Abe suami Azima dan Joanna istri Jones. Joanna meninggal dengan cara yang mengenaskan. Sementara itu Philip dan Abe masih berjuang untuk turun dari gedung ini. Abe terus mencari cara agar mereka berdua selamat. Dari lantai 74 mereka bisa turun sampai lantai 9. Tapi saat itu keadaan Abe sudah terluka parah sedangkan Philip tidak ada luka sama sekali. Akhirnya mereka terpisah di lantai 9. Awalnya Philip tidak mau meninggalkan Abe. Tapi Abe mengancam kalau Philip tidak lekas pergi, Abe akan menendang Philip. Saat itu Abe menitipkan sesuatu kepada Phlip untuk diberikan kepada Azima sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Akhirnya Philip bisa selamat dalam kejadian itu sedangkan orang yang telah menolongnya telah meninggal karena tidak lama setelah Philip keluar dari gedung itu, gedung itu runtuh sehingga Abe belum sempat keluar dari sana.
Azima yang mendengarkan cerita dari Philip sekarang sudah tidak bisa menahan air matanya. Kemudian Philip meminta agar Azima sekeluarga maju ke panggung. Sesampainya Azima di atas panggung, Philip memberikan sebuah cincin berlian yang telah disimpannya selama delapan tahun. Dan Philip akan menyekolahkan Sarah agar bisa menggapai cita-citanya, sedangkan Azima dijadikan saudara perempuannya.
Dan besok Hanum dan Rangga harus pulang ke Wina.

Keunggulan dan Kelemahan

Keunggulan:
Sampul Novel ini menarik dengan gambar bulan terbelah dan warnanya yang bagus juga simbo-simbol negara Amerika yang tepat dengan isi yang ada dalam cerita. Novel ini juga memuat banya sejarah Islam yang dikemas dengan cara yang menarok sehingga pembaca tidak merasa bosan saat membaca. Di dalam novel ini juga terdapat peta tempat-tempat yang di bahas dalam cerita. Sehingga membuat pembaca tahu dimana letak tempat itu tanpa harus mencari


Kelemahan:
        Ukuran Huruf dalam Novel ini menurut saya terlalu kecil sehingga sebelum membaca orang               akan merasa bosan dahulu. Walaupun cerita menarik tetapi kalau pembaca sudah malas karena           melihat ukuran font yang kecil.

Related Posts:

0 Response to "Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika"

Posting Komentar