Rekontruksi Kurikulum Pendidikan Islam Masa Bani Umayyah


A. Problematika Kurikulum Pendidikan Islam Pada Masa Sekarang Ini
            Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran unutk mencapai tujuan pendidikan,[1] yang salah satunya melalui mata pelajaran pendidikan agama.
 Pengembangan kurikulum  menjadi kurikulum KTSP  melibatkan berbagai
pihak (sekolah, komite sekolah, dan guru) yang tidak hanya menuntut ketrampilan teknis dari pihak pengembang, tetapi kemampuan berbagai faktor yang memengaruhi pengembangannya. Pengembangan kurikulum KTSP, dalam konteks ini kurikulum PAI, disusun sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat yang mempunya latar belakang budaya dan adat istiadat yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Oleh karena itu pengembangan kurikulum PAI harus mampu melayani kebutuhan mereka, dengan memfokuskan pengembangan pada kompetensi tertentu yang berupa pengetahuan agama, keterampilan beragama, sikap yang utuh dan terpadu antara ilmu dan amal, serta kemampuan peserta didik mendemonstrasikan sebagai wujud hasil belajar dengan pendektan informal cultural religious agar lebih bisa diterima masyarakat.
Mata pelajaran PAI merupakan salah satu mata pelajaran (subject matter) yang dikemas dalam sebuah kurikulum dan harus diikuti oleh peserta didik yang beragama Islam. Mata pelajaran PAI berfungsi sebaga pengajaran gama Islam, proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai agama Islam, rekonstruksi sosial dan sumber nilai dalam kehidupan masyarakat, dalam rangka membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta berkahlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama.
Pada sekolah umum, kurikulum PAI mempunyai kedudukan yang strategis untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, sejajar dengan mata pelajaran lainnya. Keberadaan PAI di sekolah umum tidak terpisahkan dari pendidikan nasional, yang tujuannya untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan seni, yang realisasinya membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjadikannya berakhlak mulia. Sejalan dengan tujuan ini, maka semua mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik harus mengandung muatan pendidikan akhlak yang harus diperhatikan setiap guru.
            Di dalam rancangan kurikulum PAI pada SLTP (1999), telah diuraikan secara terinci tentang kemampuan dasar lulusannya sebagai berikut :
            “Dengan landasan iman yang benar, siswa: (1) mampu membaca Al-Qur’an, menulis dan memahami terjemahan ayat-ayat pilihan; (2) mengetahui, memahami, dan meyakini unsur-unsur keimanan; (3) memahami sejarah Nabi Muhammad Saw dan perkembangan agama Islam; (4) memahami fikih ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayat; (5) melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari; dan (6)  berbudi pekerti luhur/berakhlak mulia”. (Ditjen Binbaga Islam, 1999)[2]
            Muatan akhlak yang harus diperhatikan setiap guru dalam pembelajaran merupakan wujud pengembangan potensi beragama peserta didik sebagaiman tujuan pendidikan nasional yang pada hakikatnya telah dimiliki oleh setiap peserta didik yang disebut fitrah. Tugas guru PAI dalam mengembangkan kurikulum adalah mengembangkan fitrah agar menjadi kemampuan aktual dan mengarahkannya unutk kebaikan, sehingga peserta didik dapat mencapai kesempurnaan dengan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya.
            Dengan demikian tugas guru PAI dalam pembelajaran adalah meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik akan ajaran Agama Islam agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berskhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[3]
 Sebagaimana tertuang dalam kurikulumnya, agaknya masih terpilah-pilah menjadi beberapa aspek, yaitu : aspek Al-Qur’an/Hadits, aqidah akhlak, fiqih dan tarikh Islam. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan terpisah tersebut hanya terfokus pada sub mata pelajaran PAI saja.
 Pemahaman aspek-aspek PAI maupun proses pelaksanaannya yang terpilah- pilah tersebut pada kenyataannya problem-problem yang muncul dilapangan,antara lain :
1.     Orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian makna secara tekstual dan kontekstual. Hal ini masih terlihat jelas jika kita melihat rancangan Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dibuat oleh pemerintah yang akan menjadi acuan seorang guru di dalam pengembangannya untuk pembuatan silabus dan rpp yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran di kelas.
2.     Aspek aqidah akhlak, ibadah dan syari’ah yang diajarkan hanya sebagaitata aturan keagamaan dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian sebagai konsekwensi dari pengajaran agama islam tersebut.
3.     Kurang terciptanya suasana religious di sekolah, yang seharusnya tercipta sebagai manifestasi dari potret lingkup terkecil dari efek pembelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah umum.
B.      Kurikulum Pendidikan Era Dinasti Umayyah
Kurikulum dalam artian seperangkat perencanaan yang akan  dilakukan guna mencapai tujuan sudah terlaksana secara ekplisit pada masa ini. Hal ini dapat dilihat dari berbagai literatur sejarah. Philip K Hitti memberikan isyarat bahwa kurikulum yang ada pada saat ini adalah ilmu al-qur’an dan hadits –dibahasakan dengan ilmu agama serta ilmu tubuh atau ilmu kedokteran. Dijelaskan bahwa pada saat ini ilmu kedokteran masih dalam taraf yang primitif, walaupun analisa ini kurang objektif karena memandang ilmu kedokteran (tabib) yang berlaku pada zaman Islam klasik  dipandang sebagai kegiatan mistik. Abuddin Nata, dalam hal ini mencoba menterjemahkan aktifitas kegiatan pendidikan pada masa ini. masalah ini dipaparkan dengan memberikan penjelasan bahwa kurikulum yang diterapkan pada masa dinasti Umayyah adalah : (1) Al-qur’an dan Hadits serta Fiqih,  (2) Ilmu sejarah dan Geografi, (3) Ilmu  Bahasa, (4) Filsafat.[4]
1.       Al-qur’an dan Hadits serta Fiqih
Pendidikan al-qur’an dan hadits merupakan kurikulum yang mendasar bagi ummat Islam. Sejak periode rasulullah, sampai kepada akhir zaman, pendidikan al-qur’an dan hadits akan selalu menjadi perhatian bagi ummat Islam itu sendiri. pada masa bani umayyah pendidikan al-qur’an dan hadits sudah mengalami kemajuan yang lebih baik. Pendidikan al-Qur’an menjadi pedidikan utama yang harus diberikan kepada peserta didik. Abdul Malik Ibnu Marwan merupakan salah satu contoh khalifah pada dinasti Umayyah yang selalu berpesan kepada para guru dari anak-anaknya agar mereka diajarkan al-qur’an. termasuk juga khalifah Hisyam ibn Abdul Malik (724-743).[5] Pendidikan hadits sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an pada masa ini sudah mendapat perhatian khusus. Pandangan tentang pentingnya pendidikan hadits terlihat pada keseriusan Umar bin Badul Aziz (salah seorang khalifah Bani umayyah yang mashur karena prestasi kepemimpinannya) dalam menyelamatkan hadits-hadits Rasul dari kehilangan dan pengaburan. Pada saat itu Umar bin Abdul Azis mengumpulkan para muhadditsin agar hadits dikumpulkan dan dibukukan. Sementara yang menjadi sasaran adalah seluruh ummat yang tedapat diseluruh wilayah kekuasaan Islam, sebagai dasar bagi dirinya untuk mebangun kualitas kehidupan yang lebih baik.
2.       Ilmu sejarah dan Geografi
Kurikulum sejarah diajarkan bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada peserta didik tetang sejarah-sejarah terdahulu,  hal ini berguna untuk mengambil pedoman dari peristiwa yang telah terjadi untuk dijadikan acuan dalam melakukan tindakan selanjutnya. Terutama bagi para anak-anak raja yang akan menjadi pemimpin negara. Ilmu geografi juga mulai diajarkan oleh para raja kepada putra-putranya, seiring dengan semakin luasnya wilayah-wilayah kekuasaan Islam, sehingga para calon pemimpin negara dapat mengtahui dengan baik wilayah-wilayah Islam beserta karakteristik geografinya. Pada masa ini, kajian dan pendidikan tentang ilmu sejarah dan geografi merupakan awal perkembangan. Tokoh-tokoh ilmu sejarah yang cukup mashur pada saat ini adalah Ubaid Ibn Syarhah yang telah menulis beberapa buku sejarah dan yang terkenal adalah Kitâb al-Mulûk wa Akbâr al-Mâdîn (Buku tentang sejarah para raja dan ummat terdahulu).
3.       Ilmu  Bahasa
Abuddin Nata memberikan penjelasan bahwa pendidikan bahasa yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Bani Umayyah ini meliputi ilmu nahu dan syaraf. Pendidikan ilmu nahu dan ilmu syaraf ini di laksanakan untuk semua kalangan, karena bahasa ajaran agama Islam adalah bahasa Arab. Untuk memahami bahasa ini maka harus mengerti tentang ilmu Nahu dan Sharaf. Disamping itu giatnya pembelajaran bahasa Arab disebabkan adanya arabisasi dan reformasi administrasi negara. Peristiwa ini  terjadi pada masa pemerintahan Abdul Malik Ibnu Marwan dan dan al-Walid. Pada  masa inilah, bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa resmi negara.
4.       Filsafat dan Teologi
Kajian ini juga masih dalam bentuk cikal bakal. Adanya kajian teologi pada zaman bani Umayyah ini ditandai dengan munculnya aliran dalam Islam akibat adanya perbedaan pemahaman ajaran agama secara filosofis. Aliran itu adalah aliran Mu’tazilah yang dipelopori oleh Washîl ibn Atha’ (w. 784 M) yang pada saat itu dikenal sebagai kaum rasionalisme. Pengaruh yang dibawa oleh tokoh ini menjadikan langkah awal perkembangan filsafat pada masa selanjutnya. Sekte-sekte yang lahir pada masa ini bukan hanya muktazilah saja tetapi ada sekte-sekte lain yang muncul baik sebelum dan sesudahnya. Sekte-sekte itu adalah Qadariyang, Murji’ah dan Jabbariyah. Semua sekte-sekte ini juga berperan dalam perkembangan filsafat teologi.  Filsafat-filsafat lain juga sudah mulai berkembang pada zaman ini. Hal ini bisa dilihat dari telah adanya kegiatan penterjemahan buku-buku kimia dan kedokteran Yunani kedalam bahasa Arab yang pada saat itu masih dalam bentuk bahasan filosofis. Kegiatan ini bukan hanya sampai pada taraf peterjemahan saja, tetapi sudah ada pengkajian yang dilakukan oleh ummat Islam sehingga filsafat menjadi berkembang.
C. Rekontruksi Kurikulum Pendidikan Bani Umayyah
               Dengan melihat dan mempelajari kurikulum pendidikan islam yang digunakan pada masa kekhalifahan bani umayyah. Dimana pada masa pemerintahan bani umayyah kurikulum yang digunakan untuk mengajarkan al-quran,hadits, sejarah kebudayaan islam, geografi, ilmu bahasa dan teologi atau ilmu ketuhanan.
Maka disini penulis bermaksud untuk memberikan beberapa rambu-rambu dalam penyusunan kurikulum pendidikan islam agar bisa lebih memperbaiki kualitas dan kuantitas dari pembelajaran pendidikan islam itu sendiri yaitu :
1.      Kurikulum pendidikan Islam harus memiliki pertautan sempurna dengan agama. Oleh karena itu, setiap hal yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk filsafat, tujuan, kandungan, metode pembelajaran serta hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada agama dan akhlak Islam serta terisi dengan jiwa ajaran Islam. Prinsip ini harus tetap dijaga bukan hanya terhadap ilmu syariat melainkan pada segala hal yang terkandung dalam kurikulum termasuk ilmu akal dan segala macam kegiatan dan pengalaman.
2.      Menyeluruh pada tujuan-tujuan kurikulum yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik.
3.      Keseimbangan relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum. Jika kurikulum memberi perhatian besar kepada perkembangan spiritual dan ilmu-ilmu syariat, maka aspek spiritual itu tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan.
4.      Kurikulum berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Bahkan tidak hanya itu, kurikulum pendidikan Islam juga berhubungan dengan alam sekitar, fisik dan sosial di mana peserta didik hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran, pengalaman dan sikapnya.
5.      Pemeliharaan perbedaan individu diantara para peserta didik dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan segala masalahnya. Di samping itu juga menjaga perbedaan jenis kelamin, karena semua itu dapat membuahkan kesesuaian kurikulum dengan segala hal yang dibutuhkan peserta didik.
6.      Menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Islam menjadi sumber falsafah, prinsip-prinsip dan dasar kurikulum. Oleh karena itu yang berperan dalam pengembangan dan merubah kurikulum pendidikan Islam ini adalah semua umat Islam, jika  dipandang adanya kemaslahatan bagi masyarakat apabila perubahan dilakukan.
        

[1] Lihat Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1:13.
[2] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (PT.Remaja Rosdakarya: Bandung, 2004), hlm.105
[3] Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Magnum Pustaka, 2010), hlm. 68.
[4] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), h. 92
[5] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1997, hlm. 104

Related Posts:

1 Response to "Rekontruksi Kurikulum Pendidikan Islam Masa Bani Umayyah"