Rohis dan Fundamentalisme Agama



 Pengertian Kerohanian Islam
Rohis berasal dari kata "Rohani" dan "Islam", yang berarti sebuah lembaga untuk memperkuat keislaman. Rohis biasanya dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler (ekskul). Padahal fungsi Rohis yang sebenarnya adalah forum, mentoring, dakwah, dan berbagi. Susunan dalam rohis layaknya OSIS, di dalamnya terdapat ketua, wakil, bendahara, sekretaris, dan divisi-divisi yang bertugas pada bagiannya masing-masing. Rohis umumnya memiliki kegiatan yang terpisah antara anggota pria dan wanita hal ini dikarenakan perbedaan muhrim di antara anggota. kebersamaan dapat juga terjalin antar anggota dengan rapat kegiatan serta kegiatan-kegiatan di luar ruangan. Kegiatan utama rohis mendidik siswa menjadi lebih islami dan mnegenal dengan baik dunia keislaman, dalam pelaksanaannya anggota rohis memiliki kelebihan dalam penyampaian dakwah dan cara mengenal Allah lebih dekat melalui alam dengan tadzabur alam, hal itu karena dalam kegiatannya rohis juga mengajarkan hal tersebut. Rohis selalu mendekatkan anggotanya kepada Allah SWT, dan menjauhkan anggotanya dari terorisme, kesesatan, dsb.[1]
Rohis manfaatnya sangat luar biasa, ketika banyak masalah kita bisa berbagi ke sahabat kita lewat Qodoya (salah satu acara dalam mentoring) dan mendapatkan banyak solusi dari sahabat kita yang seiman. Rohis di sini juga bermanfaat untuk  memperluas jaringan dan megambil banyak manfaat dari berbagai individu  rohis ini yang tentunya beraneka ragam latar belakangnya. Dari rohis juga dapa kita temui  berbagai macam rupa orang setiap kali kita bertatap muka. Namun yang membuat kita patut merasa prihatin adalah Rohis terkesan sepi peminatnya dan sekedar hanya organisasi yang nomor kesekian jika dibandingkan dengan organisasi keminatan yang ada.Dengan melihat kondisi semacam ini apakah kita pantas untuk hanya sekedar berpangku tangan, karena bagaimanapun perjuangan di jalan Allah harus tetap selalu ada, salah satunya melalui kegiatan di Rohis ini. Sebab Allah-pun juga sudah berjanji melalui firmannya yang ada dalam Al-Qur'an "Barang siapa menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kita". tetap semangat dan terus berjuangan kebenaran harus kita tegakan.Rohis juga bermanfaat untuk kaum muda mudi di dunia untuk mengetahui jati diri nya.. dan menambah sisi positif pada diri kita dan menjahui sisi negatif pada diri kita.

 Macam Kegiatan ROHIS

1. MABIT     
Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT). Dalam kegiatan satu malam ini setiap siswa mendapati suasana religius yang jarang didapatinya di rumah. Sepanjang malam seluruh siswa berkesempatan untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah. Bisa berupa sholat Isya berjamaah, sholat tahajjud, dan tadarus Al-Qur’an. Kegiatan ini secara langsung dapat membantu pembiasaan memanfaatkan waktu malam untuk ibadah.                 

2.  Mentoring/Halaqoh
      Mentoring merupakan aktivitas yang biasa dilakukan di luar sekolah bersama musyrif. Suatu kumpulan atau kelompok kecil yang bersama-sama mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan khususnya yang bersifat religius modern. Mereka bersama-sama membuat suatu komitmen yang akan mereka laksanakan. Aktivitas mentoring berupa transformasi ilmu dari mentor atau murobbi kepada para aktivis. Mentoring merupakan salah satu program kerja dari ROHIS.[2]


Melihat beberapa kegiatan rohis yang ada di atas kualitas kegiatan Rohis telah berkembang dari peningkatan sikap religius menuju peningkatan pemahaman akan ajaran Islam. Kajian rutin setiap bulannya telah diprogramkan untuk kajian hadis, fiqih, aqidah, akhlak, dan tarikh. Bukan hanya itu, sering pula menggelar kajian khusus untuk membahas problematika remaja dengan cara pandang Islam. Hal ini bisa jadi merupakan pengalaman baru bagi banyak siswa, dan ilmu agama menjadi keuntungan yang tak kalah penting dibanding berbagai ilmu yang diperoleh di kelas.
Mengingat manfaat Rohis yang cukup besar, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan kinerja Rohis dapat dilakukan secara menyeluruh. Pertama, perlunya perhatian khusus dari para pengurus Rohis agar mampu mengembangkan program-program kegiatannya. Kedua, sekolah perlu memberikan ruang gerak yang luas kepada Rohis agar dapat merealisasikan programnya, misalnya dengan memberikan dukungan fasilitas, dana, dan waktu. Terakhir, dukungan dari orang tua kepada putra-putrinya untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi dengan memberikan kepercayaan bahwa berorganisasi di Rohis akan membentuk sikap yang baik dan bermanfaat.
     Fundamentalisme Agama
Fundamentalisme adalah fakta yang dimiliki semua agama. Fundamentalisme agama adalah fakta global yang muncul pada semua kepercayaan dna agama, tidak hanya Islam, terlihat juga pada Judaisme, Kristen, Hindu, Sikh dan bahkan Konfusianisme. Menurut bahasa (etimologi), fundamentalisme berasal dari kata fundamen yang berarti dasar, sedangkan menurut istilah (terminology)-nya, fundamentalisme merupakan aliran pemikiran yang sempit, cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid (kaku) dan literalis (tekstual). Selanjutnya dari gerakannya, kalangan ini memiliki ciri-ciri[3] antara lain:
Pertama, mereka cenderung melakukan interpretasi literal terhadap teks-teks suci agama, menolak pemahaman kontekstual atas teks agama, karena dalam pemahaman kalangan ini, pemahaman kontekstual hanya akan menodai kesucian agama yang mereka anut. Kedua, menolak pluralisme dan relativisme. Bagi mereka, pluralisme merupakan distorsi pemahaman terhadap agama.  Ketiga, memonopoli kebenaran atas tafsir agama. Di sini kalangan fundamentalisme umumnya menganggap diri mereka sebagai pemegang otoritas penafsiran agama yang paling abash dan paling benar, sehingga mereka biasanya suka memilih sikap mengkafirkan dan mengklaim sesat kelompok lain yang tidak sealiran. Dan  keempat, gerakan fundamentalisme agaknya selalu mempunyai korelasi dengan fanatisme, eklusivisme, intoleran, radikalisme dan militanisme; dan karena itu juga, kalangan fundamentalisme suka mengambil bentuk perlawanan pada semua bentuk ancaman yang dipandang membahayakan eksistensi agama yang mereka anut.
Sementara itu dalam bahasa Arab istilah fundamentalisme tidak dikenal, akan tetapi para peneliti barat menyebutkan istilah ‘ushuliyah’ yang memiliki arti sama dengan fundamentalisme. Ushuliyah dalam bahasa arab ini memiliki arti prinsip-prinsip dasar atau akar yang memiliki makna posistifm, yaitu kelompok ulama yang paling menonjol dalam memberikan sumbangsih dalam kajian-kajian akal atau mereka yang adalah ahli penyimpulan hukum, pengambilan dalil, ijtihad dan pembaruan. Perbedaan persepsi dan substansi penggunaan istilah yang sama ini, mengakibatkan timbulnya kesalahan dalam proses komunikasi.
Bentuk ideal keagamaan masyarakat dijawab dengan nostalgia sejarah melalui ajakan untuk selalu kembali ke masa lalu. Corak-corak dasar inilah yang membentuk sikap, pola pikir, serta perilaku keberagamaan seseorang. Ajaran agama harus senantiasa menjadi fundamen, dan setiap agama tentulah mensyaratkan hal itu. Hanya saja, yang laik diperselisihkan adalah mengapa sikap fundamental itu hanya bersifat doktrinal dan cenderung kaku, sehingga ia tidak kuasa bergerak plastis mengikuti kelenturan perkembangan social.
Dengan analogi yang menarik, Zuhairi Misrawi (:2003) pernah mengelompokkan aksi fundamentalisme ini ke dalam tiga kubu. Pertama, fundamentalis radikal yaitu mereka yang gemar mempraktikkan kekerasan dengan dalih agama. Kedua, fundamentalis politik yakni mereka yang menjadikan doktrin agama sebagai dasar politik. Sedangkan ketiga adalah fundamentalis moderat yaitu kaum taat beragama yang menerima dan sudi berdamai dengan perkembangan modernitas.
Agama merupakan model kesadaran yang sangat lain dibanding dengan suasana sekuler atau profane dari kepentingan manusia dan tindak-tanduknya, secara fundamental ia disebut heterogen. Ketiga, agama dilandaskan pada keyakinan, karena itu objeknya adalah supraempiris dan ajarannya tidak mungkin diperagakan atau dibuktikan secara empiris.
Terlepas dari semua itu, istilah fundamentalisme yang dipersepsikan masyarakat dunia saat ini merupakan pemaknaan yang diproduksi bangsa Barat. Fundamentalisme menunjuk pada sikap-sikap yang ekstrem, hitam putih, tidak toleran, tidak kompromi, dan segalanya yang asosiatif. Agama dijadikan alat untuk mengintimidasi dan menindas sekelompok orang yang bertentangan dengan pahamnya. Padahal, agama mana pun tidak mengajarkan demikian. Nilai-nilai kemanusiaan agama ditinggalkan, agama yang dibangun dari integrasi akal pikiran rasional dengan nonrasional, sehingga menciptakan pikiran yang masuk akal (rasional), telah beralih peran yang mengarah pada penciptaan rasionalitas untuk bertindak anarkis. Agama yang berfungsi memenuhi kebutuhan rohani manusia agar menjadi tentram, damai, dan aman telah beralih pada kebencian, kegelisahan, serta ketakutan. Agama yang berprinsip nilai-nilai kemanusiaan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan telah berganti nilai-nilai kekerasan dan fanatisme sempit. Paham fundamentalisme agama yang demikian itulah yang harus dibenarkan dan diluruskan.[4]
Agama sebagai unsur penting dalam kebudayaan memberikan bentuk dan arah pada fikiran, perasaan dan tindakan manusia. Ia menyeimbangkan orientasi nilai, aspirasi dan edo ideal manusia. Tetapi agama bertumpu pada keyakinan di atas suatu kesepakatan kepara supra empiris. Karena itu semua unsur-unsur nilai, aspirasi dan tujuan yang lain dan berada diatasnya, seperti halnya agama, bertopang pada dasar yang stabil. Di dalam masyarakat sekuler, ketidak setabilan agama dan nilai yang diturunkannya pada tingkat tertentu akan kian jelas, terlihat dan dianggap tidak lagi mungkin melayani masyarakat kuno atau tradisional.[5]
Dengan demikian agama merupakan dorongan bagi pengembangan pemahaman manusia atas diri, perilaku, fikiran dan perasaannya, serta hubungan dengan manusia lain yang dijumpainya dalam masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu yang menerapkan diri pada lapangan khusus, ia boleh disebut masih muda, tetapi ia menawarkan kemungkinan-kemungkinan masa depan yang semarak. Karena agama terkait dengan kebutuhan, perasaan dan aspirasi manusia yang paling dalam, karena agama menyangkut beberapa aspek keadaan manusia yang sangat esensial dan karena makna serta fungsi kedua hal tersebut di atas masih tetap tak terselami oleh kita, maka prospek lanjut studi ini dan penelitian bidang ini akan merupakan isu paling menarik dan tantangan yang menggairahkan bagi mereka yang tetap berminat melanjutkan studi tentang manusia.
Untuk melawan fundamentalisme agama yang berpikiran sempit ini, perlu diperlukan proses tashfiyah (pelurusan) dan tarbiyah (pendidikan) sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Proses pelurusan ini dilakukan dengan meluruskan persepsi manusia akan agama untuk kembali kepada koridor yang benar. Kesalahan perspesi ini telah menimbulkan paham-paham fundamentalisme yang akan merusak nilai universalitas agama itu sendiri. Pelurusan ini sebagai langkah untuk mengembalikan posisi paham fundamentalisme agama ke jalan yang benar. Posisi fundamentalisme agama yang mampu mengantarkan kebersamaan dan berdampingan hidup dalam sebuah perbedaan. Dan posisi yang tetap memberi kebebasan untuk menyebarluaskan ajaran agama dengan tetap memperhatikan ukhuwah atau persaudaraan, kerukunan dengan penganut agama lainnya.
Setelah itu proses pendidikan juga diperlukan sebagai bentuk pembinaan ditanamkannya nilai-nilai agama dengan benar untuk tidak kembali kepada paham fundamentalisme sempit. Selain akan mengenalkan nilai dan prinsip agama, proses pendidikan ini juga sebagai langkah untuk membentuk kader-kader manusia yang religius dan memiliki spiritulisme yang tinggi.
Pendidikan ini dilakukan untuk melakukan optimalisasi kualitas kemanusiaan manusia sesuai fitrahnya, dan nantinya akan dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan masyarakat yang kompleks.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Rohis berasal dari kata "Rohani" dan "Islam", yang berarti sebuah lembaga untuk memperkuat keislaman. Rohis biasanya dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler (ekskul). Padahal fungsi Rohis yang sebenarnya adalah forum, mentoring, dakwah, dan berbagi. Susunan dalam rohis layaknya OSIS, di dalamnya terdapat ketua, wakil, bendahara, sekretaris, dan divisi-divisi yang bertugas pada bagiannya masing-masing. Rohis umumnya memiliki kegiatan yang terpisah antara anggota pria dan wanita hal ini dikarenakan perbedaan muhrim di antara anggota. kebersamaan dapat juga terjalin antar anggota dengan rapat kegiatan serta kegiatan-kegiatan di luar ruangan.
Beberapa kegiatan yag dilakukan oleh rohis adalah halaqoh/mentoring, mentoring ini erupakan suatu kegiatan aktivitas yang biasa dilakukan di luar sekolah bersama musyrif. Suatu kumpulan atau kelompok kecil yang bersama-sama mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan khususnya yang bersifat religius modern. Selain itu masih ada mabit, mabit disini adalah Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT). Dalam kegiatan satu malam ini setiap siswa mendapati suasana religius yang jarang didapatinya di rumah. Sepanjang malam seluruh siswa berkesempatan untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah. Selain kedua kegiatan diatas tentunya masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan oleh rohis yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Fundamentalisme adalah sebuah gerakan dalam sebuah aliran, paham atau agama yang berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas (fondasi). Karenanya, kelompok-kelompok yang mengikuti paham ini seringkali berbenturan dengan kelompok-kelompok lain bahkan yang ada di lingkungan agamanya sendiri. Mereka menganggap diri sendiri lebih murni dan dengan demikian juga lebih benar daripada lawan-lawan mereka yang iman atau ajaran agamanya telah "tercemar".Kelompok fundamentalis mengajak seluruh masyarakat luas agar taat terhadap teks-teks Kitab Suci yang otentik dan tanpa kesalahan. Mereka juga mencoba meraih kekuasaan politik demi mendesakkan kejayaan kembali ke tradisi mereka.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku :
-Armstrong, Karen. 2002.Islam A Short History .Sepintas Sejarah Islam.Yogyakarta: Ikon   Teralitera,
-Bruce, Steve. 2000. Fundamentalisme. Pertautan Sikap Keberagaman dan Modernitas. Jakarta, Erlangga.
-Pengantar Studi Islam. IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008
-William,Montgomery Watt.1997. Fundamnetalime Islam dan Modrnitas, Jakarta: PT RajaGrafido Persada.
Sumber internet :
- http://rohisannahdhoh.wordpress.com/tentang-rohis/ di akses pada 18 Desember 2012 pukul 04.38 WIB.
-http://id.wikipedia.org/wiki/Rohis di akses pada 17 Desember 2012 pukul 22.37 WIB

Related Posts:

0 Response to "Rohis dan Fundamentalisme Agama"

Posting Komentar