Akhlak Seorang Mukmin

  
   A.    Tujuan Kajian Akhlak
Tujuan dari kajian akhlak adalah untuk menegaskan bahwa kesempurnaan akhlak merupakan misi utama diutusnya Rasulullah .S.A.W. Seperti dalam sabda Rasulullah yang berbunyi, “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. Allah S.W.T juga berfirman, “Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya: 107). Tiada rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam, kecuali dengan akhlak para penghuninya.
Semua. Sesungguhnya tujuan utama dari setap ibadah yang terus dilakukan adalah untuk menata akhlak. Jika ibadah tidak membawa pada ketertataan akhlak, maka bias dikatakan bahwa ibadah hanya sekedar gerak tubuh tanpa makna.

   B.     Ibadah yang dapat ditempuh untuk dapat menigkatkan Akhlak
1.      Shalat
Allah telah berfirman, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut: 45). Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa siapa yang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalatnya hanya sekedar gerak tubuh tanpa makna. Shalat akan menjadikan seseorang menjadi pribadi yang memiliki akhlak rendah hati dan penuh kasih sayang.
2.      Sedekah
Allah berfirman, “ ambilah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”(QS. At-Taubah: 103). Tujuan dari zakat adalah untuk pensucian diri. Definisi dari pensucian adalah agar berakhlak baik. Siapapun yang bersedekah, sesungguhnya ia sedang belajar menyayangi dan memuliakan sesamanya. Ibadah, pada akhirnya akan mendorong pada akhlak mulia.
3.      Puasa
Rasulullah.s.a.w bersabda, “apabila pada suatu hari seseorang berpuasa, maka jangan mengucapkan kata-kata cabul dan jangan merampas hak orang. Apabila ia dicela atau ingin diserang, maka katakanlah “ Aku Sedang Berpuasa”. Jadi hari puasa adalah hari akhlak. Pada  saat itu tidak diperkenankan untuk melakukan kefasikan, mencela, merampas hak orang lain, atau melakukan perbuatan buruk lainnya.
4.      Haji
Ibadah haji adalah satu ibadah yang mendorong pelakunya untuk membina akhlaknya. Saat melakukan ibadah haji, saat itulah seseorang akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berakhlak dengan baik. Seseorang tidak akan mencela orang lain, mengolok-olok, menzalimi orang dan lain-lain. Bahkan seseorang akan berupaya lebih kuat lagi dalam berakhlak mulia.

   C.     Akhlak dan Kepribadian Seorang Muslim
Sebagai seorang muslim yang baik harus mengerti dan memahami hak dan kewajiban dengan baik. Pentingnya pengertian hak dan kewajiban seorang muslim adalah agar seseorang dapat melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kemampuannya. Diantara hak-hak itu adalah:
1.      Hak kepada Allah S.W.T
Hak ini boleh dikatakan sebagai hak yang paling penting, paling wajib dan paling besar dibanding dengan hak yang lain, karena Allah telah menciptakan segala sesuatu kemudian menentukannya dengan ketentuan yang penuh kebijaksanaan. Allah hanya mengharapkan agar seseorang dapat menjadi hambanya dengan menghayati segala pengertian peribadatan (penyembahan) sebagaimana mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Allah mengharapkan agar hambanya menjadi seseorang yang merendahkan diri dan tawadu’ kepada-Nya, melakukan (menjalankan) perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mempercayai (membenarkan) segala apa yang diberitakan-Nya (melalui Al-Quran dan Hadist Nabi). Inilah hak yang Allah tetapkan kepada dzat-Nya sendiri, sungguh sangat mudah untuk melaksanakan hak tersebut bagi orang yang dimudahkannya. Sebab Allah tidak menjadikan kesulitan, kesempitan dan kemelaratan dalam melaksanakan hak itu.
Dalam Q.S. Al-Haj:78 mengandung aqidah (keyakinan) yang dilandasi cinta dan mengagungkan Allah yang hasil (manfaat)-nya adalah keikhlasan dan ketekunan. Seperti menjalankan shalat lima waktu sehari semalam akan dihapus segala kesalahan dan diangkat derajatnya di sisi Allah karena shalat itu. Dan dengan Shalat Allah akan memperbaiki hati dan keadaan (perilaku) manusia yang mengerjakan shalat sesuai dengan kemampuannya. Zakat adalah mengeluarkan sebagian kecil dari hartamu, kemudian dibayarkan kepada fakir miskin, dan golongan lain yang berhak menerimanya. Dan barang siapa yang tidak mampu berpasa karena badannya lemah terus menerus maka ia wajib memberikan makan orang miskin setiap hari. Dan haji ke Baitullah satu kali seumur hidup bagi orang yang mampu (kuasa). Kesemuanya itu merupakan prinsip-prinsip atau pokok-pokok hak kepada Allah.
2.      Hak Terhadap Rasulullah S.A.W
Hak ini adalah hak penting yang kedua setelah hak kepada Allah, karena itu hak kepada Rasulullah adalah kita wajib mendahulukan cinta kepada Rasulullah  daripada cinta kepada semua manusia, bahkan diri sendiri, anak dan orang tua. Memuliakan dan mengagungkanny termasuk hak tehadap Rasulullah. Memuliakan dan mengagungkan yang patut bagi Rasulullah tanpa berlebihan dan sembrono. Adapun menghormati Rasulullah semasa hidupnya adalah menghormati sunnahnya dan pribadi Beliau yang mulia, sedangkan menghormati setelah wafatnya adalah mengikuti duniah dan syariatnya yang benar dan yang lurus. Sikap para sahabat dalam menghormati dan mengagungkan Rasulullah adalah karena akhlak (budi pekerti) yang mulai, lemah lembut, dan kepribadian periang yang telah Allah ciptakan pada diri Beliau.
Dan yang termasuk hak terhadp Rasulullah s.a.w adalah membenarkan (mempercayai) segala perkara, biak yang dulia tau yang mendatang yang diberitakannay. Melakukan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Mempercayai bahwa petunjuk (bimbingan)nya adalah paling sempurna, begitu pula syari’atnya. Membela syari’at dan bimbingannya dengan mempergunakan kekuatan yang dimiliki manusia sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang juga termasuk hak terhadap Rasulullah.  

3.      Hak Terhadap Kedua Orang Tua
Tidak seorangpun di dunai ini yang mengingkari jasa kedua orang tua atas anak mereka. Karena kedua orang tua adalah penyebab adanya (lahirnya) anak. Dengan demikian, orang tua mempunyai hak terhadap anak. Sebab mereka telah mendidik anak diwaktu kecil, ibu yang menjaga tidur sang anak dan memberika pendidika yang terbaik juga sang ayah yang berusaha keras sekuat tenaga mencarika nafkah kehidupan bagi keluarga. Untuk itulah mengapa Allah memerintahkan kepada seorang anak berbakti dan bersyukur kepada kedua orang tuanya. Hak orang tua adalah mendapatkan perlakuan baik dari anak-anaknya. Allah menempatkan derajat (kedudukan) hak terhadap kedua orang tua pada kedudukan (tingkat) yang paling tinggi. Yaitu hak orang tu ditempatkan setelah kedudukan hak kepada Allah dan kepada Rasulullah.
4.      Hak Terhadap Anak
Hak terhadap anak itu banyak sekali, diantara yang paling penting adalah Pendidikan. Yaitu memupuk (menanamkan) pendidikan agama dan akhlak pada diri mereka, sehingga mereka memperoleh bekal yang besar dari pendidikan tersebut. Anak merupakan amanat dipundak kedua orang tua. Mereka kelah akan diminta pertanggungjawaban pada hari kiamat tentang anak-anak meraka.
Hak orang tua yang lain adalah tidak boleh memprioritaskan salah satu anak dengan yang lain dalam hal pemberian. Orang tua tidak boleh memberikan sesuatu kepada sebagian anak yang dibanggakan, sehingga anak tersebut menjadi ujub (bangga) diri karena merasa dirinya lebih baik dari saudara yang lainnya. sedangkan sebagian anak yang lain tidak diberi. Sehingga mengakibatkan yang lain tersebut tidak senang dan terus menerus durhaka kepada orang tua. Apabila tidak tahu perubahan situasi, boleh jadi anak yang tadinay berbuat baik kepada orang tua, berubah menjadi anak yang durhaka. Dan sebaliknya anak yang asalnya durhaka karena merasa dibedakan justru menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tua. Sebab hati manusia itu berada ditangan Allah, Dialah yang membolak-balikkan hati seseorang yang dikehendaki.
Jika orang tua sudah menunaikan kewajiban terhadap anaknya baik berupa pendidikan, maupun pemmberian nafkah, maha sebaiknya seorang anak harus membalas kebaikan kepada orang tua dengan berbuat baik kepda mereka dan memelihara hak-hak mereka.  

5.      Hak Terhadap Sanak Kerabat
Kerabat berarti saudara, paman, bibi, anak-ank mereka dan orang-orang yang masih ada hubungan kerbat dengan kita tetntunya mempunyai hak-hak yang sesuai dengan dekat dan jauhnya kerabat. Maka wajiblah bagi setiap keluarga dekat untuk menyambung kerabatnya dengan baik, seperti memberikan sesuatu yang bermanfaat baik berupa badan maupun harta sesuai dengan keperluan yang dibutuhkan. Banyak sekali nash (Al-Quran dan Hadist) menganjurkan untuk menyambung tali silaturahmi.karena itu merupakan hak terhadap sanak kerabat.Akan tetapi kebanyakan manusia mengabaikan hak tersebut, bahkan salah seorang diantara mereka ada yang tidak tahu (mengenal) kerabat dengan cara menyambung tali silaturahmi. Oleh karena itu hendaklah kita selalu menyambung silaturahmi, sebab kalau kita bersilaturagmi Allah akan menyambung orang yang menyambug sanak kerabat, baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Caranya Allah akan mencurahkan rahmat (kasih sayang) kepadanya, memudahkan segala urusannya dan akan menghilangkan segala kesulitannya. Disamping bersilaturahmi mempererat hubungan keluarga, menumbuhkan rasa cinta kasih di antara keluarga, menumbuhkan rasa rndu dan saling tolong menolong dalam kesusahan dan kesenangan. Itulah faedah yang dapat dirasakan jika kita menjaga dan mengamalkan hak kepada kerabat.
6.      Hak Pemimpin dan Rakyat
Pemimpin adalah orang yang mengurusi urusan kaum muslim, baik kepemimpinan itu sifatnya umum seperti pemimpin tertinggi dalam Negara (presiden) ataupun khusus seperti pemimpin sebuah kantor tertentu atau pimpinan suatu jabatan (pekerjaan tertentu). Semua itu mempunyai hak yang wajib dilaksanakan terhadap rakyatnya (bawahannya) atau rakyat berkewajiban melaksanakan hak pemimpin tersebut. Demikian pula rakyat mempunyai hak terhadap pemimpin, dengan kata lain pimpinan juga berkewajiban melaksanakan hak rakyat tersebut.
Adapun hak rakyat terhadap pimpinan adalah pimpinan melahsanakan amanat yang telah dibebankan Allah kepadanya dan yang telah ditetapkan kepadanya untuk dilaksanakan sebaik mungkin. Sedangkan hak peminpin terhadap rakyat adalah rakyat wajib memberikan nasehat kepada pemimpin yang telah diserahi mengurusi urusan mereka. Rakyat wajib mengingatkan (menegur) bila pemimpin itu lupa (lengah), mendoakannya bila pemimpin itu menyinpang dari kebenaran dan melaksanakan (mengikuti) perintahnya selain maksiat kepada Allah. Dan diantara hak pemimpin terhadap rakyat yang lain adalah hendaknya rakyat membantu pimpinan dalam mangemban (melaksanakan) tugas. Tetapi hendaknya masing-masing, baik pemimpin maupun rakyat mengerti tentang peranan dan tanggung-jawabnya dalam masyarakat segala urusan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
7.      Hak terhadap Tetangga
Tetangga adalah orang yang paling dekat rumahnya denagn kita, dan tentunya mereka memiliki hak yang besar terhadap kita. Adapun hak tetangga terhadap tetangganya ialah hendaknya ia berbuat baik kepadanya semampunay, mencegah (menahan) untuk menyakiti baik berupa perkataan dan perbuatan.  Akan tetapi banyak manusia yang tidak memperhatikan hak tetangga itu sebaik-baiknya. Sehingga wajar jika tetangga tidak merasa tenang karena tindakan buruk yang telah dilakukan oleh tetangga lain. Akibatnya mereka terus menerus berkelahi, permusuhan dan perlawanan terhadap hak-hak tetangga tersebut serta mereka tidak segan-segan menyakiti tetangga baik berupa perkataan dan perbuatan. Padahal semua itu adalah perbuatan atau tindakan yang bertentangn dengan perintah Allah dan Rashulul-Nya. Serta mengakibatkan perpecahan kaum muslim.
8.      Hak Terhadap Kaum Muslim
Hak orang Islam terhadap sesama muslim itu sangatlah banyak, di antaranya yang disebutkan dalam hadist Bahwasanya  Nabi s.a.w. bersabda: Hak orang islam atas orang Islam lainnya itu ada enam: apabila kamu bertemu ucapkanlah salam kepadanya, apabila kamu diundang datangilah, apabila dimintai nasehat berikanlah nasehat, apabila dia bersin lalu memuji Allh, maka doakanlah, apabila dia sakit maka jenguklah, apabila ia mati maka antarkanlah jenazahnya.(HR. Muslim)
Dalam hadist tersebut diterangkan mengenai hak-hak orang islam sesama orang islam, diantaranya:
a.       Mengucapkan salan hukumnya adalah sunnat mu’akkad.
Sebab salam adalah sebab-sebab pemersatu orang islam dan sebab timbulnya rasa cinta kasih sesamanya. Apabila memulai mengucapkan salam itu hukumnya sunnat, maka menjawab salam itu hukumnya wajib kifayah. Artinya, jika sebagian orang telah melaksanakan, maka yang lain sudah gugur dari kewajiban.
b.      Apabila diundang, maka hadirilah undangan itu.
Karena menghadiri (mendatangi) undangan itu hukumnya sunnat mu’akkad. Sebab hal tersebut dapat menarik simpati hati orang yang mengundang dan mendatangkan rasa cinta kasih serta rasa persatuan diantara mereka. hukum sunnat menghadiri undangan itu berlaku untuk semua undangan (acara), kecuali resepsi perkawinan (walimatul Arus), maka menghadiri resepsi perkawinan itu hukumnya adalah wajib. Tetapi dengan syarat-syarat tertentu (yang sudah ma’ruf). Kendati mendapatkan undangan, tetapi sebisa mungkin kita memberikan pertolongan dan bantuan kepada yang mengundang.
c.       Apabila dimintai nasehat, maka nasehatilah.
Tetapi seandainya ia datang kepadamu dengan maksud tidak meminta nasehat kepadamu, karena mungkin ia takut mendatangkan bahaya atau berdosa terhadap apa yang akan dilakukan, maka wajib bagimu untuk memberikan nasehat. Walaupun ia datang tidak bermaksud untuk meminta nasehat, sebab hal itu termasuk menghilagkan kesulitan dan kemungkaran dari orang islam.
d.      Apabila bersin kemudian memuji Allah, maka doakanlah.
 Mendoakan orang bersin yang memuji Allah hukumnya wajib (fardhu) dan wajib dijawabnya dengan mengucapkan “semoga Allah member petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu”. Tetapi apabila terus menerus bersin, doakan sampai tiga kali, maka katakanlah yang keempat kalinya “semoga Allah menyembuhkanmu” sebagai ganti daomu (ucapanmu) “semoga Allah memberi rahmat kepadamu”.
e.       Apabila sakit maka jenguklah.
Sebab menjenguk dan mengunjungi orang yang sakit itu merupakan hak orang muslim terhadap muslim yang lain. Apabila yang sakit itu ada hubungan kerabat maka menjenguk itu lebih diwajibkan. Disunatkan bagi orang yang menjenguk orang sakit untuk menanyakan tentang kondisinya, mendoakannya dan menghiburnya dengan memberikan harapan dan semangat akan kesembuhannya.
f.       Apabila ada yang meninggal maka antarkanlah jenazahnya.
Sebab mengantarkan jenazah itu termasuk hak seorang muslim kepada muslim lainnya. Selain itu, mengantarkan jenazah itu akan mendapat pahala yang amat besar.
g.      Dan yang termasuk hak orang muslim terhadap muslim lainnya adalah berusaha tidak menyakitinya, sebab menyakiti sesama muslim itu merupakan dosa besar. Sehingga sebaai seorang muslim janganlah sampai menyakiti orang muslim lainnya. Karena itu dapat memutuskan tali persaudaraan. Dan Allah membenci orang yang memutuskan tali persaudaraan
9.      Hak Terhadap non Muslim
Yang dimaksud non muslim disini adalah mencakup semua orang kafir, yaitu ada 4 golongan: kafir Harb (orang kafir yang memerangi orang islam), kafir Musta’min (orang kafir yang meminta perlindungan), kafir Mu’ahad (orang kafir yang menjalin perjanjian dengan orang islam), kafir Dzimmi (orang kafir yang hidup di Negara islam denagn membeyar jizyah, upeti). Bagi orang-oang kafir harb tidak ada kewajiban bagi kita melindungi mereka. Sedangkan kafir musta’min mereka mempunyai hak untuk kita lindungi, karena mereka telah meminta jaminan keamanan kepada kita. Sementara kafir mu’ahad, mereka mempunyai hak terhadap kita untuk menepati janji mereka, sampai waktu yang telah disepakati antara kita dan mereka selama mereka masih konsekwen dengan janji mereka. yaitu mereka tidak mengurangi sedikitpun. Tidak membantu seseorang memusuhi kita dan mereka tidak mencacat (mencabut citra buruk agama kita(islam)).
                                                        Daftar Pustaka ;
Sholeh Utaimin, Muhammad. 1992. Akhlak dan Kepribadian Muslim. Yogyakarta: Sumbangsih Offset.Khalid, Amru. 2005. Menjadi Mukmin yang Berakhlak. Jakarta:Qisthi press.

Related Posts:

0 Response to "Akhlak Seorang Mukmin"

Posting Komentar