TINJAUAN FILOSOFIS TERHADAP HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN



A. Pengertian Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada pula yang mengatakan kata tersebut berasal dari bahasa perancis courier yang berarti berlari.[1]
Esensi dari kurikulum ialah program. Bahkan kurikulum ialah esensi dari programkata ini memang terkenal dalam ilmu pendidikan. Jadi maksud dari kurikulum itu sendiri ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan.[2]
Sedangkan kurikulum menurut William B. Ragan, meliputi seluruh program dan kehidupa sekolah, sebagaimana juga disampaikan oleh Nasution bahwa kurikulum dinyatakan ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum. Di antaranya kurikulum sebagai produk (hasil pengembangan kurikulum), kurikulum sebagai aprogram (alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa (sikap, ketrampilan tertentu).[3]

Selain itu juga ada pula yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata peljajaran yang didiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapakan sebelumnya.[4]
Dari beberapa pendapat para tokoh di atas, penulis dapat mengetahui bahwa kurikulum pada hakikatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu kegiatan jenjang pendidikan tertentu, dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulusdan berhak untuk menerima ijazah. Dalam artian bahwa kurikulum adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang telah disusun sebelumnya.
B. Cakupan Kurikulum
Dengan demikian cakupan bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pada masa sekarang Nampak semakin luas. Hal ini selain disebabkan oleh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Maka dengan didasari alasan tersebut  maka para professional pendidikan menetapkan bahwa dalam penyusunan kurikulum harus memasukkan 4 hal wajib yaitu. Pertama, bagian yang berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar. Kedua, bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktivitas-aktivitas, dan pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinya berupa mata pelajaran yang kemudian dimasukkan ke dalam silabus. Ketiga, bagian yang berisi metode atau cara menyampaikan mata pelajaran terebut. Keempat, bagian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil pengajaran mata pelajaran tertentu.[5]
C. Asas Dan Prinsip Kurikulum
Menurut S.Nasution dalam menyusun sebuah kurikulum harus memperhatikan asas-asas dan orientasi tertentu yaitu; filosofis, sosiologis,organisatoris,dan psikologis. Dan berikut penjabarannya :
1.      Asas filosofis
Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik”. Faktor “baik” tidak hanya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita, atau filsafat yang dianut sebuah negara, tetapi juga oleh guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia. Kurikulum mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat suatu bangsa, terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal. Kurikulum yang dikembangkan harus mampu menjamin terwujudnya tujuan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Jadi, asas filosofis berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara. Perbedaan filsafat suatu negara menimbulkan implikasi yang berbeda di dalam merumuskan tujuan pendidikan, menentukan bahan pelajaran dan tata cara mengajarkan, serta menentukan cara-cara evaluasi yang ditempuh. Apabila pemerintah bertukar, tujuan pendidikan akan berubah sama sekali.
Secara umum, dalam falsafah ini membawa konsekwensi bahwa rumusan kurikulum pendidikan islam harus beranjak dari konsep-konsep ontology, epistimologi, dan aksiologi yang digali dari pemikiran dengan nilai-nilai asasi ajaran islam.
2.      Asas sosiologis
Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya, lalu dinyatakannya dalam kelakuan. Tiap masyarakat berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anak akan berbeda latar belakang kebudayaanya. Perbedaan ini harus dipertimbangkan dalam kurikulum. Selain itu, perubahan masyarakat akibat perkembangan iptek merupakan faktor yang benar-benar harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum. Karena masyarakat merupakan faktor penting dalam pengembangan kurikulum, masyarakat dijadikan salah satu asas.
Maka dari itu kurikulum harus mengacu kepada arah realisasi individu dalam masyarakat. pola demikian ini berarti bahwa semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia sebagai makhluk social harus mendapat tempat dalam kurikulum pendidikan.hal ini dimaksudkan agar output yang dihasilkan pendidikan islam ialah manusia yang mampu mengambil peran dalam masyarakat dalam konteks kehidupan pada zamannya.[6]
3. Asas Psikologis
·         Psikologi Anak
Sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni menciptakan situasi-situasi yang memungkinkan anak dapat belajar mengembangkan bakatnya. Selama berabad-abad, anak tidak dipandang sebagai manusia yang lain daripada orang dewasa. Hal ini tampak dari kurikulum yang mengutamakan bahan, sedangkan anak “dipaksa” menyesuaikan diri dengan bahan tersebut dengan segala kesulitannya. Padahal anak mempunyai kebutuhan sendiri sesuai dengan perkembangannya. Pada permulaan abad ke -20, anak kian mendapat perhatian menjadi salah satu asas dalam pengembangan kurikulum. Kemudian muncullah aliran progresif, yakni kurikulum yang semata-mata didasarkan atas minat dan perkembangan anak (child centered curiculum). Kurikulum ini dapat diapandang sebagai reaksi terhadap kurikulum yang diperlukan orang dewasa tanpa menghiraukan kebutuhan anak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum adalah:
Anak bukan miniatur orang dewasa. Fungsi sekolah di antaranya mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Faktor anak harus benar-benar diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Anak harus menjadi pusat pendidikan/sebagai subjek belajar dan bukan objek belajar. Tiap anak unik, mempunyai ciri-ciri tersendiri, lain dari yang lain. Kurikulum hendaknya mempertimbangkan keunikan anak  agar ia sedapat mungkin berkembang sesuai dengan bakatnya.Walaupun tiap anak berbeda dari yang lain, banyak pula persamaan di antara mereka. Maka sebagian dari kurikulum dapat sama bagi semua.[7]
·         Psikologi Belajar[8]
Pendidikan di sekolah diberikan dnegan kepercayaan dan keyakinan bahwa anak-anak dapat dididik, dpat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, mengubah sikapnya, menerima norma-norma, menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah: bagaimana anak itu belajar? Kalau kita tahu betul bagaimana proses belajar berlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu memberikan hasil sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara seefektif-efektifnya.
Oleh sebab belajar itu ternyata suatu proses yang pelik dan kompleks, timbullah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidaksesuaian satu sama lain. Pada umumnya tiap teori mengandung kebenaran. Akan tetapi tidak memberikan gambaran tentang keseluruhan prooses belajar. Jadi, yang mencakup segala gejala belajar dari yang sederhana sampai yang paling pelik. Dengan demikian, teori belajar dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.
Pentingnya penguasaan psikologi belajar dalam pengembangan kurikulum antara lain diperlukan dalam hal:
- Seleksi dan organisasi bahan pelajaran.
- Menentukan kegiatan belajar mengajar yang paling serasi.
- Merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar    tercapai.
4. Asas organisatoris
Asas ini berkenaan dengan masalah bagaimana bahan pelajaran akan disajikan. Apakah dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, ataukah diusahakan adanya hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnya dalam bentuk broad field atau bidang studi seperti IPA, IPS, Bahasa, dan lain-lain. Ataukah diusahakan hubungan secara lebih mendalam dengan menghapuskan segala batas-batas mata pelajaran (dalam bentuk kurikulum terpadu). Penganut ilmu jiwa asosiasi akan memilih bentuk organisasi kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran, sedangkan penganut ilmu jiwa gestalt akan cenderung memilih kurikulum terpadu.
Dari keempat asas tersebut harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan, yang perlu ditekankan bahwa antara satu asas dengan asas lainnya tidaklah berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus merupakan suatu kesatuan yang utuh sehinnga dapat membentuk kurikulum pendidikan islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan anak didik dalam unsure ketauhidan, kagamaan, pengembangan potensi alaminya sebagai khalifah dimuka bumi, serta pengembangan pribadinya sebagai individu dan pengembangannya dalam kehidupan social.
D. Fugsi Kurikulum Pendidikan
            Melihat uraian tentang berbagai definisi tentang kurikulum, maka kurikulum memiliki 4 fungsi utama, yaitu: pertama, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Kedua, kurikulum sebagai pedoman dan program yang harus dilakukan oleh subyek dan obyek pendidikan. Ketiga, kurikulum memiliki fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan.[9] Keempat, kurikulum sebagai standar dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan, atau memberikan suatu batasan dari program kegiatan yang akan dijalankan pada catur wulan, semester maupun pada tingkat pendidikan tertentu.[10]


[1] Abudin Nata.1997.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta:Logos Wacana Ilmu.Hal.123
[2] Ahmad Tafsir:2006.Filsafat Pendidikan Islami.Bandung:Rosda Karya. Hal. 99
[3] Abd Aziz:2009 Filsafat Pendidikan Islam.Yogyakarta:Teras.,Hal.155
[4] Abudin Nata:1997.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta:Logos Wacana Ilmu.,Hal.123
[5] Ibid.,hal. 124
[6] Ibid., hal.125
[7] Suparlan Suhartono.2009.Filsafat Pendidikan.Yogyakarta:Ar.Ruzz Media.Hal.,163
[8] Nana Sayodih Sumandita.2010.Pengembangan Kurikulum(Teori Dan Praktek).Bandung:Remaja Rosdakarya.,hal.52
[9] Sudirman,Dkk.1989. Ilmu Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 114
[10] Zuhri.1986. Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Dermaga. Hal 3

Related Posts:

0 Response to "TINJAUAN FILOSOFIS TERHADAP HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN"

Posting Komentar