Sosiologi - Kebudayaan Masyarakat Islam

Posted by akhied pratama Sunday, November 11, 2012 0 comments


A.   Hakikat kebudayaan islam

Definisi yang sederhana ini memberikan beberapa hal yang perlu kita simak lebih lanjut yang kiranya lebih bermanfaat sebagai kerangka untuk menyimakhakekat kebudayaan sebagai berikut:
1.      Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini berarti      bahwa kebudayaan merupakan suatu kesatuan dan bukan meruppakan jumlah dari bagian-bagian.
2.      Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang material artinya berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni dan sebagainya.
3.      Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik seperti hasil seni, terbentuknya kelompok-kelompok keluarga dan sebagainya.
4.      Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hokum, adat istiadat yang berkesinambungan.
5.      Kebudayaan merupakan suatu realitas yang objekti, dan dapat dilihat.
6.      Kebudayaan tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang soliter atau terasing tetapi yang hidup dalam suatu masyarakt tertentu.

Tapi selain definisi hakekat kebudayaan di atas tentunya juga masih ada beberapa hakekat kebudayaan islam menurut beberapa tokoh dan disini kami mengambil definisi dari ki hajar dewantara mengenai hakekat kebudayaan yaitu:
1.      Kebudayaan islam selalu bersifat nasional hal ini berarti kebudayaan islam itu     harus bisa mencerminkan keadaan social islam masyarakat di Negara tersebut.
2.      Kebudayaan islam di sini bisa mencerminkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bansa tentunya. Keluhuran dan kehalusan hidup manusia tersebut selalu dipakainya sebagai ukuran.
3.      Tiap-tiap kebudayaan sebagai sebuah kemenangan manusia tarhadap kekuatan alam dan zaman selalu memudahkan serta memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan.
 Dari beberapa pendapat di atas dapat saya mengambil suatu kesimpulan bahwa hakikat kebudayaan islam itu merupakan suatu cirri khas yang ada pada kehidupan masyarakat islam dimana cirri khas tersebut harus bisa menggambarkan atau mencakup semua kehidupan masyarakat islam.

B.   Definisi Kebudayaan Menurut Islam
a)    Pengertian Kebudayaan
          Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
         Jadi kebudayaan Islam adalah adat-istiadat atau hasil kegiatan dan penciptaan (akal budi) manusia yang berhubungan dengan sesuatu yang bernafaskan keislaman.
Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek :
1.    Kehidupan Spritual
Dalam kehidupan bersejarah kita pernah mengenal yang namanya Animisme maupun Dinamisme, yang semua itu adalah sebuah kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang kita. Sehingga kepercayaan yang bersifat spiritual tersebut merupakan kkebudayaan yang kita peroleh dari nenek moyang kita. Apa kaitannya dengan kebudayaan Islam? Kebudayaan Islam merupakan kebudayaan yang kita peroleh dari para pedagang-pedagang timur tengah (Arab) yang di dalam kebudayaan itu mengandung nilai-nilai spiritual.
2.    Bahasa dan Kesustraan
Bahasa yang kita pakai sehari-hari merupakan sebuah kebudayaan yang kita dapat dari nenek moyang kita, sebagai contoh bahasa sunda, bahasa jawa dan bahasa lain diseluruh idonesia.
Kesusastraan yang merupakan kebudayaan peninggalan kebudayaan bisa kita ambil contoh seperti Babad Jawa, Tembang Macapat, parikan, dan masih banyak yang lainnya.
3.    Kesenian
Dalam setiap kebudayaan pasti terdapat keseniannya, misalnnya kesenian asli jawa adalah Gamelan, Tari-tarian, dll
4.    Sejarah
Setiap kebudayaan memiiki sejarah tersendiri maupun mitos yang beredar dimasyarakat, misalnya saja candi prambanan yang merupakan kebudayaan yang bersejarah.
5.    Ilmu Pengetahuan.
Ilmu pengetahuan juga merupakan Unsur dari sebuah kebudayaan, setiap kebudayaan menghasilkan ilmu pengetahuan yang berbeda-beda pula, misalnya kebudayaan Arab yang menghasilkan Ilmu Nahwu Sorof.
b)   Hubungan Islam dan Budaya
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan.
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya”
Islam mengajarkar kepada umatnya untuk sellu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan kepada Alloh untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “berbudaya”, dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakan kaidah norma dan pedoman. Dari sini bisa dikatakan bahwa kebudayaan sendiri berasal dari Agama.

C.   Unsur-unsur Kebudayaan Islam
          Dr. Musthafa As-Siba’i dalam bukunya “Kebangkitan Kebudayaan Islam”, menyebutkan  kebudayaan mempunyai 4 unsur pokok, yaitu :
1.    Perekonomian
Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem ekonomi yang lain, dimana dalam sistem ekonomi Islam terdapat nilai moral dan nilai ibadah dalam setiap kegiatannya.
Prinsip ekonomi Islam adalah:
ü Kebebasan individu.
Dalam Ekonomi Islam, berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan Tuhan kepada manusia. Setiap manusia harus memanfaatkannya seefisien dan seoptimal mungkin dalam produksi guna memenuhi kesejahteraan secara bersama di dunia yaitu untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Namun yang terpenting adalah bahwa kegiatan tersebut akan dipertanggung-jawabkannya di akhirat nanti.
ü Hak terhadap harta
Setiap muslim yang memiliki kekayaan yang lebih dari jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhannya harus membayar zakat kepada orang yang membutuhkannya. Zakat adalah sarana untuk mempersempit kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan untuk menjamin kebutuhan semua orang terpenuhi. Allah SWT berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus".(QS. Al Bayyinah: 5). Setiap muslim yang memiliki kekayaan yang lebih dari jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhannya harus membayar zakat kepada orang yang membutuhkannya. Zakat adalah sarana untuk mempersempit kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan untuk menjamin kebutuhan semua orang terpenuhi.
ü Ketidaksamaan ekonomi dalam batasan.
Status kekalifahan berlaku umum untuk setiap manusia, namun tidak berarti selalu punya hak yang sama dalam mendapatkan keuntungan. Kesamaan hanya dalam kesempatan, dan setiap individu dapat menikmati keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya.
ü Kesamaan sosial.
. Individu-individu memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Hak dan kewajiban ekonomi individu disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dan dengan peranan-peranan normatif masing-masing dalam struktur sosial.
ü Keselamatan sosial.
Allah telah menetapkan batas-batas tertentu terhadap prilaku manusia sehingga menguntungkan individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya dan merugikan individu lainnya.
ü  Larangan menumpuk kekayaan.
Seorang muslim hendaknya mengambil barang sesuai dengan kebutuhan. Karena menimbun makanan dan kebutuhan dasar lainnya merupakan bentuk pelanggaran hukum dalam islam yang sangat merugikan orang banyak. “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imron: 180).
ü Larangan terhadap institusi anti-sosial.
Ekonomi Islam juga harus memikirkan dan mendukung terhadap institusi sosial yang mengusahakan kemaslahatan umat, bukan mendukung institusi yang anti-sosial atau yang hanya berorientasi pada laba.
ü  Kebajikan individu dalam masyarakat.
Kebajikan individu dalam masyarakat ini dapat diwujudkan misalnya dengan bentuk sedekah. Allah SWT bwrfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. At Taghobun: 15-16).
Konsep Ekonomi Islam
     Islam mengambil suatu kaidah terbaik antara kedua pandangan yang ekstrim (kapitalis dan komunis) dan mencoba untuk membentuk keseimbangan di antara keduanya (kebendaan dan rohaniah). Keberhasilan sistem ekonomi Islam tergantung kepada sejauh mana penyesuaian yang dapat dilakukan di antara keperluan kebendaan dan keperluan rohani / etika yang diperlukan manusia. Sumber pedoman ekonomi Islam adalah al-Qur’an dan sunnah Rasul, yaitu dalam:
·      Qs.al-Ahzab:72 (Manusia sebagai makhluk pengemban amanat Allah).
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al Ahzab:72)
·         Qs.Hud:61 (Untuk memakmurkan kehidupan di bumi).
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Sholeh `Alaihis Sallam. Sholeh `Alaihis Sallam berkata: “Hai kaumku, `ibadatilah Allah!, sekali-kali tidak ada bagimu Ilaah (ma`buud/yang di`ibadati) selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat lagi memperkenankan (do`a hamba Nya).” (QS. Hud: 61).
·         Qs.al-Baqarah:30 (Tentang kedudukan terhormat sebagai khalifah Allah di bumi).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’  Tuhan berfirman  ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”(QS. Al Baqarah:30).

Hal-hal yang tidak secara jelas diatur dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut diperoleh ketentuannya dengan jalan ijtihad.
Dasar-dasar ekonomi Islam adalah:
1)      Bertujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera baik di dunia dan di akhirat, tercapainya pemuasan optimal berbagai kebutuhan baik jasmani maupun rohani secara seimbang, baik perorangan maupun masyarakat. Dan untuk itu alat pemuas dicapai secara optimal dengan pengorbanan tanpa pemborosan dan kelestarian alam tetap terjaga.
2)      Hak milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dan dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.
3)      Dilarang menimbun harta benda dan menjadikannya terlentar.
4)      Dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang selalu meminta, oleh karena itu harus dinafkahkan sehingga dicapai pembagian rizki.
5)      Pada batas tertentu, hak milik relatif tersebut dikenakan zakat.
6)      Perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang.
7)      Tiada perbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi ukuran perbedaan adalah prestasi kerja.Kemudian landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya sistem ekonomi Islam adalah sebagai berikut.
Nilai dasar sistem ekonomi Islam:
1)      Hakikat pemilikan adalah kemanfaatan, bukan penguasaan.
2)      Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia.
3)      Keadilan antar sesama manusia.
Nilai instrumental sistem ekonomi Islam:
1)   Kewajiban zakat.
2)    Larangan riba.
3)    Kerjasama ekonomi.
4)    Jaminan sosial.
5)    Peranan negara.
Nilai filosofis sistem ekonomi Islam:
1)   Sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai.
2)   Sistem ekonomi Islam bersifat dinamik, dalam arti penelitian dan pengembangannya berlangsung terus-menerus.
Nilai normatif sistem ekonomi Islam:
1)      Landasan aqidah.
2)      Landasan akhlaq.
3)      Landasan syari’ah.
4)      Al-Qur’anul Karim.
5)      Ijtihad (Ra’yu), meliputi qiyas, masalah mursalah, istihsan, istishab, dan urf.

2.       Politik
Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat.
Rasulullah saw bersabda:
“Adalah Bani Israel, para Nabi selalu mengatur urusan mereka. Setiap seorang Nabi meninggal, diganti Nabi berikutnya. Dan sungguh tidak ada lagi Nabi selainku. Akan ada para Khalifah yang banyak” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).
Hadits diatas dengan tegas menjelaskan bahwa Khalifahlah yang mengatur dan mengurus rakyatnya (kaum Muslim) setelah nabi saw. hal ini juga ditegaskan dalam hadits Rasulullah:
“Imam adalah seorang penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya”.
Jadi, esensi politik dalam pandangan Islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum Islam. Adapun hubungan antara politik dan Islam secara tepat digambarkan oleh Imam al-Ghazali: “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”
Berbeda dengan pandangan Barat politik diartikan sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanyalah kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Hal ini bisa kita dapati dari salah satu pendapat ahli politik di barat, yaitu Loewenstein yang berpendapat “politic is nicht anderes als der kamps um die Macht” (politik tidak lain merupakan perjuangan kekuasaan).
Wajib Berpolitik Bagi Setiap Muslim
Berpolitik adalah kewajiban bagi setiap Muslim baik itu laki-laki maupun perempuan. Adapun dalil yang menunjukkan itu antara lain:
Pertama, dalil-dalil syara telah mewajibkan bagi kaum Muslim untuk mengurus urusannya berdasarkan hukum-hukum Islam. Sebagai pelaksana praktis hukum syara, Allah SWT telah mewajibkan adanya ditengah-tengah kaum Muslim pemerintah Islam yang menjalankan urusan umat berdasarkan hukum syara. Firman Allah SWT yang artinya:
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah SWT dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” (QS. Al-Maidah [105]:48)
kedua, syara telah mewajibkan kaum Muslim untuk hirau terhadap urusan umat sehingga keberlangsungan hukum syara bisa terjamin. karenanya dalam Islam ada kewajiban untuk mengoreksi penguasa (muhasabah li al-hukkam). Kewajiban ini didasarkan kepada Firman Allah SWT yang artinya:
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [03]: 104).

3. Tradisi yang Menyangkut Tingkah Laku dan Sopan Santun
Kehadiran Islam sebagai agama sebenarnya bukanlah untuk menolak segala adat atau budaya yang telah berlaku di tengah masyarakat. Tradisi dan budaya yang telah mapan dan memperoleh kesepakatan kolektif sebagai perilaku normatif, maka Islam tidak akan mengubah atau menolaknya, tetapi membenahi dan menyempurnakannya berdasarkan nilai-nilai budi pekerti luhur yang sesuai dengan ajaran-ajaran syariat Rasululllah saw. bersabda "Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti."
Misalnya budaya dalam mengenakan jilbab bagi para muslimah, sejak sebelum Islam datang para wanita di Arab sudah mengenakan jilbab karena untuk melindungi diri dari debu padang pasir. Karena budaya itu baik, maka Islam tetap mempertahankannya, bahkan Allah mewajibkan setiap muslimah untuk mengenakan jilbab.

4. Ilmu Pengetahuan dan Kesenian
a.  Ilmu Pengetahuan
          Membahas masalah ilmu pengetahuan dalam Islam berarti kita membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Alloh baik ayat Qouliyah (Al Quran dan Sunnah) maupun ayat-ayat Kauniyah (fenomena alam semesta), dimana di dalamnya syarat muatan multi iptek. Dalam Al-Quran juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk mempelajari, meneliti, dan memperhatikan ilmu pengetahuan. Imam Al Ghazali telah melakukan penelitian terhadap dalil dalil Al-Quran dan Sunnah sebagai hukum formal, dan sampai pada satu kesimpulan bahwa, dalam kitab Al Quran terdapat 250 ayat tentang masalah legislatif, dan terdapat 763 ayat atau 12 % dari jumlah ayat Al Quran yang langsung berhubungan dengan ilmu pengetahuan (Sidi Gazalba: 1970, hlm. 155).Belum lagi tentang Hadits-hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Terdapat banyak Hadits yang diriwayatkan dari berbagai sumber tentang perlunya menuntut ilmu serta manfaat-manfaatnya.
Diantaranya ayat-ayat Al Quran yang membahas ilmu pengetahuan antara lain:
§  Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,[1]. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.[2]. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,[3]. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.[4]. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[5]”. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
§  “ Wahai orang –orang yang beriman ! Apabila di katakana padamu, “ Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan meninggalkan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ ( QS. Al-Mujadilah: 11).
§  “Maka apakah mereka tidak melakukan intidzar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana mereka didirikan. Dan bumi bagaimana dibentangkan, maka berilah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan.” (QS. Al Ghasiyah:17-20).
§  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”(QS.Ali Imron:190-191).
        Misalnya dalam Al Quran surat Al Ghasiyah:17-20, kita diingatkan Alloh, apakah kita tidak meneliti bagaimana onta diciptakan. Ibrohnya kita diberi tugas untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu biologi. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengamati bagaimana langit ditinggikan. Artinya, kita harus mempelajari ilmu tentang kosmologi, ilmu alam, astronomi, fisika, dan lain-lain. Kemudian kita juga disuruh memikirkan tentang bagaimana gunung-gunung ditegakkan. Maknanya kita juga diperintahjkan untuk mempelajari ilmu bumi, geofisika, geologi, dan lain-lain yang kesemuanya itu termasuk dalam sains modern.
b.  Kesenian
Secara umum Islam menyukai yang namanya keindahan, sedangkan keindahan itu sendiri merupakan bagian dari seni. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan keterkaitan islam dengan seni. Kita dapat melihat kutifan ayat yang berkitan dengan seni atau keindahan, seperti dalam surah Al-A’raaf ayat 31 dan 32, “ Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah,’ Semua itu untuk orang orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat’. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. Dalam ayat tersebut terdapat kata perhiasan, dan para ulama menafsirkan bahwa perhiasan tersebut merupakan itu adalah keindahan yang melukiskan hasil seni. Seperti yang tadi dijelaskan bahwa keindahan sangat berkaitan erat dengan seni. Dijaman sekarang ini ragam seni sudah bermacm-macam, ada seni lukis, seni tari, seni patung, seni ukiran, sdeni kaligrafi, seni arsitektur, dn banyak lagi seni-seni yang lainnya. Mungkin kita tidak menemukan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ragam seni-seni tadi. Jadi intinya tidak ada larangan dengan seni-seni itu, diperbolehkan dan tidak di haramkan. Tetapi ada catatan yang merupakan akidah dan kepribadian islam yaitu dalam pembuatan atau pengekspresiannya moral islam harus dipertahankan dan juga hasil karya seni tidak menjadi menduakan allah, karena itu sudah menjadi bid’ah yang selanjutnya menjadi musyrik.

D.      Asal Kebudayaan Islam
            Kitab Suci Al Quran yang menjadi ajaran dasar agama Islam,  adalah faktor utama yang telah memekarkan kebudayaan dunia bercorakkan Islam. Seluruh Al Quran yang berisikan ajaran-ajaran mengenai aqidah, syariah, akhlak, falsafah dan ilmu pengetahuan, telah merubah corak kebudayaan dunia.
            Al Quran yang turun di dunia Arab telah merubah kebudayaan-kebudayaan jahiliyah. Keindahan Al Quran telah berpengaruh besar terhadap perkembangan sastra Arab. Kebiasaan mengarang zaman jahiliyah mengalami pembaharuan dan perubahan, dimana pengarang mengikuti gaya Al Quran dalam penulisan prosa bebas dan juga prosa bersajak .
            Selain itu pengaruh Al Quran dalam kehidupan sosial yaitu mengabadikan bahasa Arab yang fasih, yang dibaca dan dimengerti oleh beratus juta manusia. Al Qurann telah memelihara hidupnya persatuan dan unsure Arab, karena Islam mengharuskan setiap muslim menghafal dan mempelajari Al Quran. Apabila tak ada Al Quran maka bahasa Arab akan menjadi bahasa yang berserak berkeping-keping, yang sukar dipahami sesama mereka.
Dengan sebab Al Quran, banyaklah bangsa-bangsa bukan Arab yang membaca dan berbicara bahasa Arab, sekalipun mereka berada di Asia, Eropa dan Afrika.
            Al Quran tidak saja mempengaruhi dunia bahasa saja, tetapi juga berpengaruh pada bidang akhlak dan sikap hidup kaum muslim. Hal ini dikarenakan didalam  Al Quran terkandung ajaran-ajaran keagamaan dan keduniaan, asas perundangan dalam kehidupan, dasar-dasar hokum yang mengatur kehidupan sehari-hari, urusan pergaulan, bahkan sampai urusan makan dan ke kamar mandi yang semua itu digali dalam Al Quran.
Di Masa daulah Abbasiyah  Islam berkembang meluas ke berbagai tempat dunia, menguasai bangsa-bangsa lain,  corak kebudayaan Islam semakin beragam.  Asimilasi yang terjadi antar bangsa menjadikan perkawinan antar unsur kebudayaan, dan dari perkawinan ini lahirlah kebudayaan baru yang mempusakai beberapa sifat dari unsur-unsur asli.
Hal ini disebabkan oleh :
1.    Warga Negara terdiri dari unsur bangsa
2.    Pergaulan yang intim dan kawin campuran
3.    Berbagai bangsa memeluk agama Islam
4.    Meningkatnya kemajuan yang membutuhkan ilmu pengetahuan luas dalam segala bidang kehidupan.
     Sebagaimana warga Negara terdiri dari berbagai unsur bangsa maka setiap warganegara memiliki keistimewaan dalam kehidupan akal dan kehidupan budaya.
Dalam masa ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal, yaitu:
a.     Kebudayaan Parsia
Masuknya unsur kebudayaan Parsia ke dalam kebudayaan Islam dilakukan oleh para Wazir (wakil khalifah urusan Negara). Pada saat itu wazir memberikan jabatan-jabatan penting kepada keturunan Parsia sehingga merekalah yang memasukkan kebudayaan Parsia ke kebudayaan Islam. Selain itu pemindahan ibukota Negara dari damaskus ke Baghdad yang terletak dalam bekas daerah jajahan Parsia juga mempengaruhi masuknya kebudayaan ini. Sebagai contoh dari kebudayaan ini adalah peniruan manajemen administrasi dan keuangan dari Persi yang dilakukan oleh para wazir. Pajak jaman itu juga diadopsi dari Persi. Bahkan di zaman nabi, dalam perang Ahzab, Rasul menerima saran Salman al-Farisy untuk membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah. Metode ini adalah salah satu metode pertahanan ala Persi. Rasul mengagumi dan melaksanakan saran itu.
b.    Kebudayaan Hindi
Sejak zaman jahiliyah ada hubungan dagang antara Arabia dengan India.  Kaum muslimin memikirkan India dan perlahan menguasainya.
Pada Dinasti Mughol, di Bengal dan Punjab, India, ada sebagian umat muslim turut memperingati berbagai perayaan Hindu, beribadah di beberapa tempat suci Hindu, melaksanakan sesajen pada dewa-dewa Hindu dan menyelenggarakan perkawinan dalam pola tradisi Hindu. Warga Hindu yang memeluk Islam tetap mempertahankan unsur-unsur keyakinan dan praktek lama mereka, banyak warga Hindu mengeramatkan wali-wali muslim tanpa mengubah identitas agama mereka. Bahkan ajaran Hindu, ilahiyat dan tanasukhul arwah masuk ke dalam Islam.
Inilah gambaran umum mengenai keagamaan di Dinasti Mughal. Di mana batas-batas Islam dan Hinduisme lebih fleksibel dibandingkan sebagaimana di dalam doktrin formalnya. Islam memasuki lingkungan masyarakat India pada umumnya melalui asimilasi dan melalui bentuk-bentuk tertentu yang diasimilasikan menjadi kultur pribumi.[1]
c.     Kebudayaan Yunani
Yunani telah menguasai Asia dan Afrika sehingga kebudayaannya pun sudah bertebaran di dunia Timur. Para pujangga dan sarjana yunani memperkembang ilmu dan kebudayaan mereka, sehingga menjalarlah peradaban dan kebudayaan Yunani. 
Pada era Harun al-Rashid (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad. Sang Khalifah pada masa Abbasiyah mendirikan Bayt al-Hikmah, yaitu sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mun dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab Hunayn Ibn Ishaq. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah.
Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains, meliputi metematika, astronomi, kedokteran, kimia, zoologi, geografi dan lain-lain dilakukan. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia, India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti buku-buku Pythagoras, Plato, Aristoteles, Hippocrates, Euclid, Plotinus, Galen, Sushruta, Charaka, Aryabhata maupun Brahmagupta. kitab-kitab Yunani yang disalin ke dalam bahasa Arab, hal ini membuka jalan masuknya pengaruh kebudayaan yunani ke dalam kebudayaan Islam.
d.    Kebudayaan Arab
Ada hubungan kuat antara Islam sebagai agama dengan unsur kebudayaan Arab. Menurut Dr. Muhammad Imarah, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal :
Pertama, Islam diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah, seorang Arab. Juga, mukjizat terbesar agama ini, al-Quran, didatangkan dengan bahasa Arab yang jelas (al-Mubin), yang dengan ketinggian sastranya dapat mengungguli para sastrawan terkemuka Arab sepanjang sejarah. Sebagaimana memahami dan menguasai al-Quran sangat sulit dengan bahasa apapun selain Arab. Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika ingin menyelami dan mendalami makna kandungan al-Quran, maka hendaknya mengarabkan diri.
Kedua, dalam menyiarkan dakwah Islam yang universal, bangsa Arab berada di garda depan, dengan pimpinan kearaban Nabi dan al-Quran, kebangkitan realita Arab dari segi "sebab turunnya wahyu" dengan peran sebagai buku catatan interpretatif terhadap al-Qur'an dan lokasi dimulainya dakwah di jazirah Arab sebagai "peleton pertama terdepan" di barisan tentara dakwahnya.
Ketiga, jika agama-agama terdahulu mempunyai karakteristik yang sesuai dengan konsep Islam lokal, kondisional dan temporal, pada saat Islam berkarakteristikkan universal dan mondial, maka posisi mereka sebagai "garda terdepan" agama Islam adalah menembus batas wilayah mereka.
Dari alasan tersebut kebudayaan Arab erat hubungannya dengan Islam. Islam mengaharuskan mempelajari Al Quran, Hadis, Fiqh yang notabene adalah bahasa Arab. Jelas karena Al Quran turun di Arab maka kebudayaan Arab mempengaruhi kebudayaan Islam. Nabi Muhammad turunan Arab, Quran dalam bahasa Arab, dan juru dakwah pertama adalah orang Arab. Inilah sebabnya agama dan bahasa Arab sering disebut oleh para ahli sejarah kebudayaan Islam adalah kebudayaan Arab. [2]

E.       Fungsi Kebudayaan Menurut Islam
Didalam kebudayaan terdapat pola – pola perilaku yang merupakan cara-cara manusia untuk bertindak sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat, artinya kebudayaan merupakan suatu garis pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai bagaimana masyarakat harus bertindak, bagaimana masyarakat melakukkan hubungan dengan orang lain atau bersosialisasi, apa yang harus dilakukan, apa yang dilarang dan sebagainya.
Hasil karya manusia akan melahirkan suatu kebudayaan atau teknologi yang nantinya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya : sebuah desa yang mayoritas pekerjaanya sebagai petani, mereka akan menghasilkan sebuah kebudayaan seperti masa menyebar padi yang nantinya menjadi bibit untuk di tanam, masa penanaman padi, dan masa panen. Dari kebudayaan tersebut masyarakat akan menghasilkan sebuah alat atau teknologi yang nantinya akan membantu para petani bekerja di sawah, seperti Tracktor, Tleser, dll.
Secara khusus Kebudayaan berfungsi:
1.         Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok
2.         Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
3.         Pembimbing kehidupan manusia
4.         Pembeda antar manusia dan binatang
5.         Hidup lebih baik, Lebih manusiawi dan berperikemanusiaan.
Secara umum fungsi kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani.
Fungsi kebudayaan bagi masyarakat:ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
F.       Studi Budaya Islam Menurut Para Ahli
Budaya adalah sebuah obyek studi yang menarik dalam sosiologi. Hal ini dikemukakan oleh teoretisi sosial Douglas Kellner yang menunjukkan pentingnya studimultidispliner dalam memahami budaya. Hal ini diawali di Inggris oleh Studi Budaya Birmingham yang melihat budaya dalam perspektif politik, kemasyarakatan dan budaya itu sendiri. Studi budaya tidak lagi didominasi oleh studi obyek-obyek budaya tinggi (avant-garde) namun juga membedah secara langsung budaya kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari komik, bacaan, sains, hingga film.
Studi budaya seringkali dikaitkan dengan studi-studi poskolonial yang hampir parallel dengan teori-teori yang dikembangkan mazhab Frankfurt  yang ingin membedah terjadinya penjajahan baru melalui obyek-obyek kultural. Semangat ini dikembangkan dalam teoretisi politik Amerika Serikat, Edward Said (1935-2003), dengan konteks pembedaan struktur sosial di belahan barat dan timur.
Secara umum, studi budaya menjalin studi yang melibatkan banyak analisis dan studi dalam disiplin studi komunikasi, politik, ekonomi, dan studi tentang linguistik atau semiologi. Semiologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari konsep tanda sebagaielemen penyusun obyek budaya.
Salah satu pengayaan kajian sosiologi budaya dikembangkan oleh sosiolog Perancis,Pierre Bordieu (1930-2002), yang mempelajari bagaimana pola budaya yang terbentuk atas ruang pengalaman sosial manusia yang menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan masyarakat modern, mulai dari sains, budaya pop, televisi, dan sebagainya.
1.    Faisal Ismail  dalam bukunya ³ParadigmaKebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis´mengatakan kebudayaan adalah manifestasi dan perwujudansegala aktivitas manusia sebagai upaya untuk memenuhikebutuhan hidupnya. Ia merupakan perwujudan dari ide,pemikiran, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dalam bentuktindakan dan karya. Oleh karena itu kebudayaan adalahsuatu yang spesifik manusia.Kebudayaan Islam merupakan salah satu perwujudan darifungsi manusia di bumi, yaitu sebagai hamba dan khalifahAllah.Adapun prinsip kebudayaan Islam adalah:
·            Menghormati akal
·            Memotivasi untuk menuntut dan meningkatkan ilmu
·            Menghindari taklid buta
2.     Studi kebudayaan Islam menurut Yusuf Qardhawy adalah sebagai berikut:
·      Rabbaniyah:
Kebudayaan Islam bernuansa ketuhanan. Iabercampur dengan keimanan secara umum dan ketauhidansecara khusus.
·      Akhlaqiyah:
Kebudayaan Islam tidak ada pemisahan antaraakhlak dengan ilmu, antara akhlak dengan perbuatan, antaraakhlak dengan ekonomi, antara akhlak dengan politik, danantara akhlak dengan peperangan serta antara akhlak dengansemua segi kehidupan lainnya.
·      Insaniyah:
Kebudayaan Islam menghormati manusia,memelihara fitrah, kemuliaan dan hak-haknya. KebudayaanIslam tegak atas asumsi bahwa manusia adalah makhluk yangdimuliakan olehTuhannya.
·      Tasamuh:
Islam tidak mewajibkan non muslim yang hidupdalam naungan kebudayaannya untuk menjalankan syariatIslam dan tidak memaksakan orang lain untuk masuk kedalam lingkungan kebudayaan Islam.
·      Tasawwuf:
Kebudayaan Islam bersifat tanawwuf (beranekawarna). Ia tidak hanya memuat masalah-masalah ketuhanan,tetapi terdapat juga masalah ilmu pengetahuan, kemanusiaan,dan kealaman yang beraneka ragam.
·      W ashatiyah:
Kebudayaan Islam mencerminkan sistemwashatiyah (pertengahan). Pertengahan antara berlebihan dankekurangan, antara jasmani dan rohani, antara hak dankewajiban, antara kepentingan pribadi dan kepentinganbersama, dan anatara dunia dan akhirat.
·      Takamul :
Takamul atau terpadu, saling mendukung antarakebudayaan Islam yang satu dengan kebudayaan Islam yang  lain.


DAFTAR PUSTAKA

akses tanggal 23-03-2011 (14:50)
Hasjmy, A. 1973. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Porgas. 2011. Dinasti Mughal di India. yang diunduh dari http://d-scene.blogspot.com pada tanggal 1 Juni 2011
Imarah, Muhammad.1996. "Al-Islam wa al-'Arubah (al-Haiahal-Mashriyah al-'Ammah li al-Kitab). yang diunduh dari http://rahmat07.multiply.com pada tanggal 1 Juni 2011




[1] Porgas, Dinasti Mughal di India, 2011, dalam http://d-scene.blogspot.com yang diunduh pada tanggal 1 Juni 2011
[2] Dr. Muhammad Imarah, "Al-Islam wa al-'Arubah (al-Haiahal-Mashriyah al-'Ammah li al-Kitab, 1996) hal. 11-12 yang diunduh dari http://rahmat07.multiply.com pada tanggal 1 Juni 2011
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sosiologi - Kebudayaan Masyarakat Islam
Ditulis oleh akhied pratama
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://united-akhied.blogspot.com/2012/11/sosiologi-kebudayaan-masyarakat-islam.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of islamic studies.