Filsafat Positivisme Auguste Comte

Posted by akhied pratama Sunday, November 11, 2012 0 comments


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            Positivisme yang menandai krisis-krisis di barat itu sebenarnya marupakan salah satu dari sekian banyak aliran aliran filsafat di barat, dan aliran ini berkembang sejak abad ke-19 dengan perintisnya adalah seorang ahli filsafat dari Prancis yang bernama Auguste Comte. Meski dalam beberapa segi mengandung kebaruan namun pandangan ini merupakan bukan suatu hal yang sama sekali baru, karena pada masa sebelumnya Kant sudah berkembang dengan pendangannya mengenai empirisme yang dalam beberapa segi berkesesuaian dengan positivisme.[1]
B. Rumusan Masalah
A.    Bagaimana riwayat hidup seorang August Comte ?
B.     Apa pengertian positivisme ?
C.     Apa ajaran yang ada dalam positivisme ?
D.    Pembagian tahap pemikiran manusia ?
E.     Apa saja filsafat dalam filsafat positivisme ?
C. Tujuan Masalah
            Pembuatan makalah ini bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi pemahaman kita mengenai filsafat pada umumnya, dan filsafat positivism pada khususnya. Pada filsafat ini nanti akan kita bahas mengenai sejarah dari positivisme, dan tokoh-tokoh penganutnya. Selain itu juga akan kita bahas berbagai sub bab/pokok yang berkaitan dengan positivism. Sehingga diharapkan setelah membaca makalah yang kami susun ini,kita semua bisa mengetahui tentang positivisme itu sendiri dan dapat juga dapat mengambil hal positif untuk diplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.




BAB II
PEMBAHASAN
RIWAYAT HIDUP COMTE
August Comte dilahirkan pada 1798 di Montpellier, Prancis. Pada umur belasan tahun ia menolak beberapa adat kebiasan dari keluarganya yang katholik orthodox, yaitu kesalehan dalam agama dan dukungan terhadap bangsawan. Ia belajar disekolah politeknik di Paris dan menerima pelajaran ilmu pasti. Sesudah menyelesaikan sekolahnya ia mempelajari biologi dan sejarah, dan mencari nafkah dengan memberikan les matematika. Comte bekerja sama dengan Saint Simon untuk beberapa tahun, tetapi kemudian berselisih faham dan Comte bekerja secara mandiri. Comte berusaha untuk memperoleh gelar professor tetapi tidak berhasil.[2]

PENGERTIAN POSITIVISME
Positivisme diturunkan dari kata positif, dalam hal ini positivisme dapat diartikan sebagai suatu pandangan yang sejalan dengan empirisme, menempatkan penghayatan yang penting serta mendalam yang bertujuan untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan yang nyata, karena harus didasarkan kepada hal-hal yang positivisme. Dimana positivisme itu sendiri hanya membatasi diri kepada pengalaman-pengalaman yang hanya bersifat objektif saja. Hal ini berbeda dengan empirisme yang bersifat lebih lunak karena empirisme juga mau menerima pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau pengalaman-pengalaman yang bersifat subjektif  juga.[3]
AJARAN-AJARAN DALAM POSITIVISME
1.      Dalam alam terhadap hukum yang dapat diketahui.
2.      Dalam alam penyebab benda-benda tidakdapat diketahui.
3.      Setiap pernyataan yang pada prinsipnya tidak dapat direduksikan ke pernyataan sedehana mengenai fakta, baik khusus maupun umum.
4.      Hanya berhubungan antara fakta yang dapat diketahui.
5.      Perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan social.

TAHAP-TAHAP PEMIKIRAN MANUSIA
Menurut comte perkembangan manusia dibagi kedalam 3 tahap perkembangan yaitu yang pertama tahap teologik, kemudian berkembang ke tahap metafisika, dan akan berkembang ketahap yang terakhir yaitu tahap positif.[4] Dan kesemua hal itu akan dijelaskan lebih lanjut dengan beberapa pernyataan dibawah ini:
            1. TAHAP TEOLOGIK
            Tahap teologik bersifat melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam atau apa yang ada dibaliknya. Pada zaman ini atau tahap ini seseorang mengarahkan rohnya pada hakikat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terahir segala sesuatu. Menurutnya benda-benda pada zaman ini merupakan ungkapan dari supernaturalisme, bermula dari suatu faham yang mempercayai adanya kekuatan magis dibenda-benda tertentu, ini adalah tahap teologis yang paling primitif. kemudian mempercayai pada banyak Tuhan, saat itu orang menurunkan hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri. Dan kemudian menjadi monoteisme ini adalah suatu tahap tertinggi yang mana saat itu manusia menyatukan Tuhan-Tuhannya menjadi satu tokoh tertinggi. Ini adalah abad monarkhi dan kekuasaan mutlak. Ini menurutnya adalah abad kekanak-kanakan.[5]

            2. TAHAP METAFISIK
            Tahap metafisik sebenarnya merupakan suatu masa dimana disini adalah masa perubahan dari masa teologik, dimana pada masa teologik tersebut seseorang hanya percaya pada satu doktrin saja dan tidak mencoba untuk mengkritisinya. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai bertanya-tanya dan mulai untuk mencari bukti-bukti yang nyata terhadap pandangan suatu doktrin. Tahap metafisik menggunakan kekuatan atau bukti yang nyata yang dapat berhubungan langsung  dengan manusia. Ini adalah abad nasionalisme dan kedaulatan umum sudah mulai tampak, atau sring kali tahap ini disebut sebagai abad remaja.[6]
            3. TAHAP POSITIF
Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada tahap ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Pada tahap ini orang berusaha untuk menemukan hukum dari segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang pada akhirnya akan menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Pada tahap ini menerangkan berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum.[7]
            3 tahap ini menurut Comte adalah suatu tahap yang berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, bahkan berlaku bagi setiap masing-masing individu itu sendiri. Ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandangnya  akan  lebih menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati manusia.
Oleh karena itu baginya Teologi dan filsafat barat abad tengah merupakan pemikiran primitive. Karena masih pada taraf pertanyaan tentang teologi dan metafisis.[8]
Pengetahuan positivisme mengandung arti sebagai pengetahuan yang nyata, berguna, tertentu dan pasti.[9] Akal dan ilmu menurut Comte harus saling berhubungan karena ilmu yang menurutnya serapan dari sesuatu yang positif tetaplah harus memakai akal dalam pembandingannya, dan disini etika telah di anggap tinggi dalam heirarki ilmu.[10]



Dua fase filsafat positifistik
dua fase filsafat positifistik dalam masyarakat terdapat dua fase yaitu statika social dan yang selanjutnya adalah dinamika social yangakan lebih dijelaskan melalui pernyataan dibawah ini:
1.      Statika Sosial adalah masyarakat sebagai kenyataan dengan kaidah-kaidah yang menyusun tatanan social. Ini adalah saat dimana masyarakat mulai tersusun atau terbangun.
2.      Dinamika social yang artinya masyarakat pada saat itu berada dalam penciptaan sejarahnya dan mulai menanjak dalam kemajuannya.[11]

KEDUDUKAN ILMU PASTI DAN PSIKOLOGI
Menurut Comte ilmu pasti merupakan dasar dari filsafat karena ia memiliki dalil-dalil yang bersifat umum dan paling abstrak. Sedangkan psiologi tidak diberi ruang dalam system comte. Hal ini sesuai dengan pendapatnya bahwa manusia tidak akan pernah menyelidiki diri sendiri.[12]
TINGKATAN AGAMA MENURUT COMTE
Comte telah menciptakan suatu kristianitas yang baru berdasarkan dirinya sendiri. Ia membagi kedalam 3 agama:
1. Agama yang pertama adalah penghormatan atas alam. Semua adalah Tuhan
2. Agama yang kedua adalah penyembahan terhadap kaidah moral sebagai kekuasaan.
3. Agama yang ketiga adalah kekuasaan yang tidak terbatas yang terungkap dalam alam yang merupakan sumber dan akhir dari cita moral. Moralitas adalah hakikat dari benda-benda.[13]




Tekanan pada kehidupan Emosional dan Praktis
Comte menekankan kehidupan kepada hal yang bersifat emosional yang penuh perasaan dalam hal ini untuk dapat menciptakan suatu masyarakat yang bersifat alturistik. Dan ia juga menekankan pada kehidupan yang bersifat praktis jelas nyata dan mudah, ini adalah sambungan dari filsafat positifnya, jika ilmu pengetahuan haruslah terbukti real dan nyata, maka kehidupan haruslah kehidupan yang jelas, nyata, real dan mudah.[14]


[1] Hardiman, F.Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas. Kanisius, Yogyakarta, 2003, hal 54
[2] Ali mudhofir, kamus filsafat barat, pustaka pelajar, cet ke: 1, Yogyakarta, 2001 hal: 101
[3] Dr. Harun Hadiwijono, sari sejarah filsafat barat 2,penerbit kanisus (anggota ikapi) cet, ke: 11 ,th: 2004 Yogyakarta,hal:109-110

[4]  Mohammad Muslih, filsafat ilmu,kajian atas dasar paradigm dan ilmu pengetahuan, pen: belukar, cet: 3, 2006, Yogyakarta, hal: 91
[5] Ibid: 110

[6] Ibid: 111
[7] Ibid: 111
[8] Ibid: 111
[9] Ali mudhofir, kamus filsafat barat, hal :103
[10] Ibid: 103
[11] Ali mudhofir, kamus filsafat barat, hal: 103-104
[12] Dr. Harun Hadiwijono, sari sejarah filsafat barat , hal: 112-113
[13] Ali mudhofir, kamus filsafat barat, hal: 104
[14] Ibid: 104

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Filsafat Positivisme Auguste Comte
Ditulis oleh akhied pratama
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://united-akhied.blogspot.com/2012/11/filsafat-positivisme-auguste-comte.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of islamic studies.